Designed by : Photoroyalty / Freepik
Buat kamu yang mau melanjutkan studi ke luar negeri, hal utama yang wajib segera dimiliki adalah sertifikat kemampuan Bahasa Inggris. Syarat ini biasanya yang paling pertama dilihat oleh universitas atau pemberi beasiswa. Makanya mesti dipersiapkan dengan maksimal.

Ada dua ujian yang umum digunakan: IELTS dan TOEFL iBT. Saya sebenernya kurang tau perbedaan signifikan antara IELTS dan TOEFL. Yang saya tau, kalau IELTS dibuat oleh Inggris, sedangkan TOEFL dibuat oleh Amerika. Biasanya universitas-universitas di Amerika lebih suka menggunakan TOEFL, meskipun sekarang juga sudah banyak universitas di Amerika yang bisa pakai IELTS.

Saya sendiri waktu itu pilih IELTS karena ikut-ikutan teman-teman belajar saya. Hehehe. 

Kalau kamu mau belajar IELTS juga, saya ada beberapa tips yang mungkin bisa dicoba.

Cari tau tentang IELTS
Kita bisa tanya teman yang sudah pernah ujian atau bisa juga cari di youtube tentang apa sih sebenarnya IELTS itu. Apa saja yang diujikan. Berapa lama waktu ujiannya. Bentuk soal seperti apa. Biar kebayang kira-kira apa aja yang mesti kita pelajarin.

Buku panduan
Di internet banyak banget buku latihan soal IELTS. Saya sendiri pakai buku latihan Cambridge. Saya punya sampai sembilan buku. Jangan lupa cari yang ada latihan listening nya.

Daftar Ujian
Supaya semangat belajarnya, daftar dulu aja ujiannya! Kalau belajar doang tanpa daftar, rasanya bikin kita nunda-nunda belajar terus. Kalau sudah daftar biasanya lebih semangat dan ada rasa 'sayang uangnya' kalau hasil ujiannya jelek. Minimal 2-3 bulan ke depan, jadi ada waktu belajar yang cukup dan ada deadline yang pasti. Bisa daftar di British Council, IALF, atau IDP. Kalau saya tes di British Council, karena mereka biasanya menyelenggarakan ujian di hotel jadi meja yang dipakai meja panjang. Lega buat nulis-nulis.

Les
Kalau kebetulan ada uang lebih, bisa ikutan les. Buat saya, les ngga perlu yang mahal banget. Les yang relatif murah dan gurunya lumyan enak juga ada kok, seperti di LBI UI. Dulu 2015 harganya 1,3 juta (sekarang sudah naik jadi 1,6 juta) udah dapet buku panduan, di tempat les lain harganya bisa berkali-kali lipat. Di tempat les ini, umumnya kita hanya belajar strategi menjawab soal, latihan soal, dan sebagainya. Tapi les ngga akan banyak pengaruhnya kalau kita ngga belajar sendiri. Kalau dana terbatas, maksimalkan belajar sendiri aja.

Online course
Buat yang ngga bisa les, kita bisa maksimalkan ilmu dari internet yang gratis. Saya dapat tips ini dari Mita, dia sangat merekomendasikan ikut online course dari Edx. Kata Mita, "Interaktif banget dan tipsnya detil. Jenis latiannya juga banyak. Enaknya selain gratis sih laju kelasnya self paced, jadinya terserah mau belajarnya kapan aja.". Cuuuss langsung enroll sekaraang!

Jadwal Belajar
Belajar yang efektif itu biasanya yang sering latihan soal. Saya sendiri gini jadwalnya:
Pekan pertama - ketiga:
     Senin - listening
     Selasa - reading
     Rabu - speaking
     Kamis - writing
     Sabtu Minggu - try out
Pekan keempat:
     Try out

Jadwal ini cukup efektif buat saya. Minimal banget, dua jam di weekday dan dua kali TO di hari Sabtu dan Minggu. Kalau jam belajar ini bener-bener efektif, insya Allah skor akan meningkat.

Jangan lupa, ketika belajar mesti latihan juga alokasi waktu. Pakai jam tangan. Pastikan waktu yang tersedia sudah sesuai dengan waku ujian.

Catat perkembangan nilai kamu, dari yang pertama kali banget nilainya mungkin ngga terlalu bagus. Sampai menjelang hari H. Perkembangan nilai ini bikin kamu lebih ngeh sama peningkatan kemampuan kamu.

Latihan spesifik setiap section:
Di luar waktu belajar wajib, kita bisa tambahkan belajar di waktu senggang. Misalnya sambil perjalanan menuju kantor atau nunggu makan siang datang. Yaa sesempetnya aja..

Listening 
  • Selain latihan soal-soal IELTS, bisa juga ditambahkan dengan dengar podcast. Download aja podcast nya, lalu kita dengarkan saat kita dalam perjalanan. Di kereta, busway, mobil, atau kapanpun sesempatnya kita. Ngga usah banyak-banyak juga ngga papa, yang penting rutin. Setiap hari dengerin orang cas cis cus pakai bahasa inggris. Lumayan banget loh bikin kuping kita terbiasa dengar orang ngomong pakai bahasa inggris. Saya biasanya denger di Serial dan This American Life.
  • Soal-soal IELTS itu ada pola nya. Jadi semakin banyak kamu latihan dengan menggunakan soal-soal IELTS, pasti lama-lama kita jadi tau kapan jawaban akan disebutkan oleh speakers.
  • Jangan meremehkan listening. Walaupun kesannya lebih gampang dibandingkan dengan yang lain. Listening ini ladang nilai. Kalau bisa, usahakan banget bisa dapet sebagus-bagusnya. Tenang aja, dengan banyaknya frekuensi latihan, insya Allah bakal bisa dapat nilai lebih bagus.
Reading
  • Kadang kita merasa baca soal dulu, akan membuat lebih cepat menjawab. Ternyata ngga juga. Kalau baca soal duluan, kita malah jadi fokus ke mencari jawaban, bukan ke mengerti isi artikel. Ujung-ujungnya bolak balik baca artikelnya tapi ngga ngerti-ngerti. Usahakan baca artikel dulu, baru jawab soal.
  • Saat pertama kali baca artikel, coba usahakan langsung cari inti paragrafnya dan tandai. Dengan meningkatnya frekuensi dan kualitas belajar, kamu akan butuh waktu lebih singkat untuk mencari inti paragraf ini. 
  • Inti paragraf yang sudah ditandai ini akan memudahkan kita mencari jawaban. Kita bisa kebayang kira-kira dimana posisi informasi tersebut di dalam artikel. Tapi saya sendiri ngga mencoret-coret buku latihan saya, saya buat catatan nya di kertas coret-coretan. Soalnya saya ingin pakai buku latihan itu berkali-kali. Kalau sudah kotor dengan coretan, ngga bisa dipakai lagi.
Writing
Oke, ini yang menurut saya paling susah. Bahkan nilai saya pun masih jelek di bagian ini.
  • Kita mesti sering baca contoh jawaban yang dapet nilai 8-9. Perhatikan cara membuat paragraf. Gimana cara menghubungkan paragraf yang satu dan lainnya. Cari contoh jawaban ini tinggal googling aja kok
  • Dari contoh jawaban itu, kita bisa buat daftar kata yang bisa dipakai. Kata-kata penghubung (misalnya however, therefore, moreover, dll). Coba hapalkan kata-kata itu dan pakai di kalimat yang kita tulis. Coba lihat di sini, di sini  beberapa contoh kata.
  • Dalam writing, sangat penting untuk menggunakan beberapa padanan kata dan tidak mengulangi kata yang sama berulang-ulang. Ini namanya parafrase. Ada banyak kata yang cukup umum di soal-soal IELTS, misalnya consumption, expense, increase, decrease, dan lain sebagainya. Kalau bingung, cari sinonim kata di Thesaurus.
  • Cari temen yang bisa bantu periksain. Kadang kalau udah hopeless, kita tuh suka ngga tau gimana cara meningkatkan kualitas tulisan. Jangan takut buat minta tolong ke orang yang udah lebih jago. Tanya dan minta tolong untuk cek hasil latihan kamu. Tanya kira-kira bagian mana dari tulisan kamu yang bisa ditingkatkan.
Speaking
  • Print atau unduh daftar pertanyaan umum. Latihan nanya sendiri dan jawab sendiri. Dulu saya latihan speaking setiap dibonceng suami naik motor, pasti ngoceh-ngoceh sendiri sepanjang jalan.
  • Cari temen orang luar negeri. Kebetulan waktu itu supervisor saya orang Amerika, jadi mau ngga mau mesti ngomong sama dia. Ini sangat membantu untuk bikin kita PD ngomong. Entah kenapa kalau ngomongnya sama bule, saya lebih PD dibandingkan dengan ngomong ke orang Indonesia. Grammar belakangan aja. Yang penting dia ngerti apa yang kita ucapkan dan kita berani untuk mencoba ngomong. 
  • Nonton video contoh orang ujian speaking. Di Youtube ada banyak video contoh peserta yang dapat nilai bagus (band 7-9). Tonton dan perhatikan bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang diajukan assessor.
  • Perhatikan cara kita menjawab. Kesalahan utama saya waktu ujian adalah terbiasa jawab kayak ngobrol biasa. Padahal saat ujian, jawaban kita benar-benar dilihat pemilihan kata, struktur kalimat, dan cara menjawab, bukan seperti ngobrol biasa. 
Inti dari segala inti nya..
Latihan, latihan, dan latihan
Ngga ada cara lain yang akan membuat kita bisa selain latihan. Coba. Usaha dulu. Usaha terus. Insya Allah akan ada perbaikan nilai asal cara belajar kita bener.

***

Semangat ya!! Saya pertama kali belajar IETLS, nilai semua section itu antara 4 - 5 doang loh. Ancur banget kan. Hehehe. Cuma seiring dengan meningkatnya frekuensi latihan dan belajar, lama-lama naik juga nilainya. Terakhir overall score 7. 

Kamu pasti bisa jauh lebih baik dari ku!!

Baca juga: Cita-cita yang tertunda
Design by : Creativeart / Freepik
Sejak memutuskan untuk menikah di usia muda, saya berjanji pada diri sendiri untuk tetap menjaga cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya tau, pernikahan mungkin saja menjadi faktor yang menyebabkan saya ngga bisa berkomitmen atas cita-cita itu. Apalagi saya kepengen banget kuliah di luar negeri, yang tentunya lebih banyak pertimbangannya. Bisa saja setelah menikah, saya malah nyaman jadi ibu rumah tangga, ngga berkarir di bidang yang saat ini sedang dijalani, punya kewajiban yang ngga bisa ditinggal, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Setelah menikah, benar aja, saya jadi ogah-ogahan persiapan kuliah di luar negeri. Nikah itu enak coy, bisa deket terus sama orang yang kita sayang. Pacaran. Belajar banyak hal baru. Sedangkan, kalau kuliah di luar negeri terus mesti LDR gimanaa. Padahal lagi seneng-seneng nya jadi pengantin baru! Itu pikiran saya di awal pernikahan.

Baca juga: Saya Pasca Menikah

Untungnya, suami saya ternyata sangat mendukung cita-cita ini. Malah dia yang lebih semangat. Dia ngga pernah bosen untuk nagih janji. Kapan kamu mau kuliah? Kapan daftar beasiswa? Kapan tes IELTS? Kapan ini? Kapan itu? Saya juga sempet nawar, kuliah di Indonesia ajalah.. di UI atau UGM juga bagus kok. Tetoot. Ga boleh. Janji tetaplah janji. Saya sampe heran sebenernya yang mau kuliah itu saya apa dia sih kok dia yang rempsss. Hahahaa.

Di tahun pertama pernikahan, saya masih agak malas-malasan persiapan kuliah, karena bener-bener lagi seneng jadi pengantin baru. Baru di tahun kedua saya gerilya. Saya mulai belajar, ikutan tes, dan daftar beasiswa. Sayangnya, mungkin karena kurang berusaha maksimal, saya gagal dalam semua beasiswa yang saya coba. Sedih juga rasanya. Apalagi hampir semua temen yang sama-sama berjuang, berhasil dapat beasiswanya dan berangkat kuliah tahun lalu. Banyak banget temen yang hanya perlu sekali tes atau daftar beasiswa, eeh langsung dapet. Bikin ngerasa paling bodoh sendiri gitu kaan.

Baca juga : Our Dream Come True

Kharissa (kanan) dan Gerry (kiri), dua orang pertama yang ngajakin saya belajar bareng IELTS.
Ternyata, Tuhan berkehendak lain, pada tahun kedua kami diberi kesempatan untuk punya rumah sendiri. Alhamdulillah! Mungkin itu kenapa saya ngga dapet beasiswa, supaya bisa ngerasain senengnya tinggal di rumah sendiri, berkebun, hias-hias rumah, dan tinggal di tempat yang nyaman. Yeay!

Baru akhirnya awal tahun 2017 saya berjuang maksimal untuk daftar beasiswa lagi. Kebetulan pas banget di kantor, proyek yang dipegang sejak dua tahun terakhir sudah selesai jadi bisa fokus ke persiapan sekolah. Saya daftar di dua lembaga beasiswa, yang pertama Stuned. Stuned udah jadi inceran banget! Saya udah dua kali daftar ke Wageningen University, Belanda dan dua-duanya keterima. Tapi ngga dapet-dapet beasiswanya. Tahun lalu coba pakai beasiswa LPDP, gagal. Tahun ini penasaran banget coba pakai Stuned, kali aja dapet kan yaa.. Eh sayangnya gagal juga. Sedih. Hahaha.

Beasiswa kedua, namanya CIFOR/USAID Fellowship. Beasiswa CIFOR/USAID Fellowship ini menurut saya cukup keren dan kesempatannya besar, karena khusus untuk S2 di bidang kehutanan. Beasiswa ini juga hanya bekerjasama dengan empat universitas US yang relatif bagus di bidang kehutanan, yaitu University of  Yale, University of Florida, Northern Arizona University (NAU), dan Missouri University (MU). Tahun lalu saya sudah pernah coba daftar, tapi ngga diterima, hiks. Akhirnya tahun ini saya maksimalkan sesi interview, sampai-sampai bikin buku portofolio wkwkwk. Yang penting usaha mah maksimal kaan, daripada gagal lagi terus nyesel kenapa ngga maksimal.

Alhamdulillah saya keterima di NAU dan MU tetapi akhirnya memutuskan untuk pilih NAU. Insya Allah (kalau visa lolos) saya akan berangkat bulan Agustus 2017. Yeaay!

Selama ini saya selalu underestimate diri sendiri. Keseringan bandingin diri sendiri dengan orang lain, akhirnya ngga percaya diri. Untungnya mas suami selalu semangatin dan mendorong terus supaya saya bisa lebih berani. Waktu saya sempet drama nangis-nangis bilang saya ngga sepintar itu, jadi jangan berharap ketinggian (iya, saya emang anaknya lebay). Dia bilang, yang penting kamu usaha dulu maksimal, coba dulu, mulai saat ini ngga boleh bilang ngga bisa sebelum nyoba. Cita-cita harus diperjuangkan.

I am so lucky to have him!

Dari proses mencari beasiswa ini saya jadi belajar untuk mengenali kemampuan diri sendiri dan seperti kata Mirza, ngga boleh nyerah sebelum mencoba. Mungkin di luar sana ada orang yang luar biasa pinter, cerdas, dan beruntung banget, sekali daftar beasiswa langsung dapet. Atau mungkin aja orang-orang keliatannya selow, padahal sebenernya belajar melulu. Orang beda-beda banget. Dan saya sadar, otak saya pas pas an, jadi kerja mesti dua kali lipat lebih keras dan lebih rajin.

Terus, kalau memang keinginan belum terwujud, sabar aja.. Selow.. Mungkin emang belum waktunya dan lagi mau dikasih sesuatu yang lain yang lebih baik. Insya Allah apapun itu, akan ada jalannya, walau berliku-liku dan tanjakan terus. Insya Allah, kalau Allah mengizinkan, akan sampai di tujuan.

Jadi, semangat terus!!!!!!!
Designed by: Freepik
Inget ngga sih dulu waktu masih SD suka ada imunisasi di sekolah? Ganti-gantian disuntik di depan kelas, nangis, atau bahkan kejar-kejaran sama guru gara-gara takut disuntik? Hahaha seru banget ya kali diinget-inget..

Imunisasi atau dikenal juga dengan vaksinasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita. Dulu waktu masih kecil, kemungkinan besar sudah pernah kita dapatkan beberapa vaksin. Terutama vaksin-vaksin yang memang diwajibkan oleh pemerintah seperti polio, DPT, dan lain-lain.

Sekarang sudah besar, ternyata ada beberapa vaksin yang sebaiknya kita dapatkan atau diulang. Jadi meskipun waktu masih kecil sudah pernah, kita bisa vaksin ulang untuk 'memperbarui' kekebalan tubuh kita.

Apalagi kalau mau ke luar negeri, super duper penting untuk vaksin. Kita ngga pernah tau di luar sana orang lain mengidap penyakit menular apa. Vaksin ini tuh ibaratnya bawa payung sebelum hujan. Daripada sakit terus mahal, mendingan investasi vaksin dulu deh.

Nah, karena saya kebetulan mau berangkat ke Amerika, jadi ada tiga vaksin yang mau saya ambil: MMR, DPT, dan meningitis. Saya cek di rumah sakit yang deket-deket rumah, eeh ngga pada punya stok vaksin MMR. Ternyata sekarang stok vaksin MMR se-Indonesia lagi habis dari distributornya.

Saya dapat info, salah satu tempat yang punya vaksin MMR adalah In Harmony Clinic. Yaudah lah ya langsung cus vaksin di sana.

Sebelum datang ke klinik, kita mesti banget bikin janji. Bisa melalui telepon atau pun melalui apps Practo. Mereka punya stok vaksin terbatas, jadi jangan sampai main langsung dateng eeh vaksinnya ngga tersedia. Setelah bikin janji, saya juga diminta mengirimkan bukti Letter of Acceptance dari universitas yang dituju. LoA ini sebagai bukti bahwa saya emang butuh banget vaksin untuk bikin visa-nya. Habis itu, tinggal dateng deh sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Lokasi klinik mudah dicari di google maps. Saya waktu itu naik kereta sampai Cikini, lalu naik gojek sampai klinik. Dari luar kliniknya kurang keliatan jelas. Seingat saya sih ngga ada plang besar deh. Adanya spanduk aja. Setelah masuk ke klinik, tinggal bilang ke orang administrasi, lalu nunggu dipanggil.

Saat ketemu dokter, kita akan dijelasin dahulu tentang seluk beluk vaksin yang akan diinjeksikan ke dalam tubuh kita. Dokternya jelasin pakai power point gitu, jadi enak ada contoh gambar dan jelas banget. Bisa nanya-nanya juga dengan dokternya. Kalau semuanya sudah jelas, baru deh disuntik.

Suntik vaksin ini di lengan bagian atas. Kalau bisa pakai baju yang lengannya longgar, biar ngga repot buka baju. Tinggal gulung lengan baju sampai paling atas banget. Selesai disuntik, kita akan dapat sertifikat vaksin. Pasca suntik, saya sih ngga demam atau pun lemes, cuma berasa agak pegal sedikit aja.

Semoga vaksin ini bener-bener bisa bekerja dengan baik yaa.. Aamiinnn.
Salah satu syarat untuk mengajukan visa ke Kedutaan Amerika Serikat adalah Medical Check Up (MCU). Saya sebagai calon penerima beasiswa diperbolehkan melakukan medical check up hanya di Klinik Medikaloka atau RS Premier Bintaro.

Saya memilih Medikaloka karena lebih dekat dan gampang diakses transportasi umum. Sebelum datang MCU, peserta perlu membuat janji dengan Medikaloka yang bisa dilakukan melalui telepon. Saya buat janji satu hari sebelum pemeriksaan.


Sebelum medical check up, saya diminta puasa sepuluh jam sebelum pemeriksaan. Artinya kalau saya mulai MCU jam delapan pagi, saya hanya boleh makan sampai terakhir jam sepuluh malam. Lumayan ngga terasa puasa karena malamnya kan tidur. Puasa ini diperbolehkan minum air mineral.  

Hari itu saya berangkat pagi-pagi sekali dari Citayam. Saya naik kereta sampai stasiun Tebet lalu lanjut naik Gojek sampai lokasi. Sampai di sana terlalu pagi, jam 7.15. Padahal Medikaloka baru buka pukul 08.00. Untungnya ada bapak satpam baik hati yang mempersilakan saya menunggu di dalam Medikaloka. Ruang tunggu di Medikaloka enak sekali, nyaman, bersih, dan desain interior nya dirancang dengan bagus. Jadi kita sebagai pasien merasa nyaman.

Pukul 08.00, KTP saya diminta oleh petugas administrasi. Setelah itu, saya diminta menunggu lagi di ruang tunggu. Di ruang tunggu dalam juga tersedia air mineral yang bisa dikonsumsi oleh pasien. Ada majalah, tv, dan kafe kecil dimana kita bisa membeli minuman seperti kopi, teh, dan lain-lain. Enak ada fasilitas-fasilitas ini, bikin kita ngga bosan menunggu. Ada juga loker tempat penyimpanan barang, bikin kita ngga repot bawa-bawa perintilan.

Pemeriksaan baru dimulai sekitar pukul 08.30. Pemeriksaan pertama yaitu pengambilan darah. Darah yang diambil sekitar 2 tabung, saya ngga tau dua tabung itu tepatnya berapa mililiter. Mestinya darah ini bisa diambil dari tangan kiri aja. Tapi pembuluh darah vena saya ketipisan dan waktu disuntik jarumnya kurang tepat masuk ke vena. Akhirnya saat tabung kedua, darah saya ngga keluar lagi. Jadi mesti diambil dari lengan kanan. Kata susternya, darah saya pagi itu juga relatif kental, karena kurang minum air mineral pagi-paginya. Ayo lebih sering minum air putih biar darahnya lancar.

Setelah itu, ada pemeriksaan mata, indeks mata tubuh, ukuran-ukuran tubuh, dan tensi. Lalu pemeriksaan urin, urin pertama diminta dikeluarkan dahulu lalu baru masukkan urin selanjutnya ke tabung yang diberikan. Agak repot juga ya. Untungnya kamar mandi yang tersedia cukup bersih, ada tempat cuci tangan, sabun, dan tissu yang telah tersedia. Setelah selesai, tabung urin saya letakkan di tempat yang sudah tersedia tepat di depan kamar mandi.

Lalu saya pemeriksaan EKG. Saat pemeriksaan EKG, saya yang mesti lepas pengait bra dan buka baju sampai dada. Untungnya di ruangan khusus yang bisa dikunci yaa, jadi lebih nyaman. Saran saya, buat perempuan, jangan pakai baju terusan panjang ya saat medical check up. Biar ngga telanjang banget hahaha. Pakai atasan yang mudah dibuka dan bawahan yang nyaman aja. 

Habis EKG, saya rontgen di lantai dua. Foto nya dua kali, satu dari belakang dan satu dari samping. Daan tinggal ketemu sama dokter umumnya deh.

Saya dipersilakan sarapan di ruang tunggu dalam. Saya ngga nyangka dapet sarapan. Pilihannya ada nasi goreng dan omelet, saya pilih nasi goreng. Rasanya kayak nasi goreng hotel, kurang cocok sama lidah warung pinggir jalan kayak saya hehe.

Nasi Goreng Medikaloka
Terakhir, pemeriksaan dengan dokter umum. Pemeriksaan lumayan cepat, diperiksa mulut, telinga, dan badannya. Sudah deh, selesai sekitar pukul 10.00. Ada formulir catatan medis yang harus saya isi. Lalu tinggal bayar deh.

Total pembayaran Rp 924.000 yang bisa dibayar tunai, debit, maupun dengan kartu kredit. Mahal juga yaa.. Untungnya biaya ini akan di reimburse oleh pemberi beasiswa. Hasil MCU selesai sekitar 3-5 hari kerja. Semoga hasilnya bagus semua dan bisa lolos ke tahap berikutnya.

sumber: answersingenesis.org
Sebulan sebelum menikah, saya merasa kepala lebih sering pusing dan mata lebih cepat lelah. Saya mengira kondisi itu dipicu oleh stres menuju hari pernikahan. Waktu itu memang saya dan pacar mempersiapkan pernikahan tanpa wedding organizer, hanya dibantu keluarga dan teman-teman. Kebayang lah ya pusing nya se-tujuh-keliling apa. Maka dari itu, saya tidak terlalu mempedulikan rasa pusing dan kelelahan mata ini.

Beberapa bulan setelah menikah saya jadi lumayan sering pakai eye liner. Nah, kalau pakai eye liner itu kan sebelah mata agak merem sedikit ya. Saya jadi ngeh kalau mata kiri saya agak kurang bisa melihat dengan jelas, terutama di sudut atas, seperti ketutup hitam sedikit. Saya pikir ini karena minus mata yang nambah dan harus ganti kacamata. Akhirnya pergilah saya ke dokter mata di RS Bunda Depok untuk mendapatkan resep kacamata.

Saat bertemu dengan dokter mata, saya cerita kalau mata kiri saya agak aneh ngga bisa full lihatnya. Dokter itu menyernyitkan dahi, lalu memeriksa mata saya. Saya diminta menutup mata kiri saya dengan tangan, lalu dokter itu melakukan gerakan isyarat angka di depan mata saya, di serong kanan, serong kiri, serong kanan atas, kiri atas, dan bawah. Mata kanan aman, saya masih bisa menebak angka berapa yang ia tunjukkan. Giliran mata kanan yang ditutup, lalu mata kiri diperiksa. Eh. Ternyata saya ngga bisa lihat pojok kanan atas. Seperti ada filter hitam pekat yang menutup jari si dokter. Hmmmmmm.

Muka bu dokter kombinasi antara excited dan shock. Saya jadi bingung, ini kok dokternya kayak seneng, tapi agak surprise campur deg-degan gitu. Mungkin biasanya dia dapet pasien yang gitu-gitu aja, yang cuma minta resep dokter, jarang-jarang dapet pasien yang penyakit kayak mata saya. Hahaha

Bu dokter itu meminta saya menunggu sampai seluruh pasien beliau selesai. Suster kemudian meneteskan cairan ke kedua mata saya, agar pupil saya terbuka dan bu dokter bisa lihat kondisi dalam mata. Rasanya perih banget bangetan. Mesti tarik napas dalam-dalam, kedap-kedip berkali-kali. Beberapa saat kemudian, bu dokter itu selesai memeriksa seluruh pasiennya, tinggal saya aja. Ia pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut, melihat retina dan mencari makula mata. Saya pernah dengar kata 'makula' saat kuliah di biologi, tapi saya sudah agak-agak lupa makula itu letaknya di mana.

Selesai memeriksa saya, dokternya mukanya masih antara excited dan deg-degan. Saya masih bingung ini sakit apa. Sambil periksa saya, bu dokter ngomong ke suster, "wah retinanya ini kayaknya", "hmm udah kena makula belum ya", "kayaknya itu ya.." "ini RS Bunda kurang lengkap alatnya, padahal saya udah pesan tapi belum di acc terus." Lah bu dokter malah curhat. Lol. Saya cuma senyam senyum tipis aja.

Baru setelah selesai pemeriksaan, akhirnya bu dokter bilang,
"ini retina kamu udah kena, saya ngga bisa diagonis yang pasti karena saya belum sub-spesialis. Kamu segera cari dokter retina yang bagus yaa, di RSCM atau Jakarta Eye Center. Ngga usah pakai tradisional-tradisional ya." katanya sambil muka serius.
"hmm, oke.." kata saya sambil menyernyitkan dahi.
"kemungkinan kamu kena Ablasio Retina. Tapi kamu cek lagi aja sama dokter sub spesialis retina. Ini kalau benar Ablasio, kamu mesti segera operasi." lanjut bu dokter.
"oh gitu.. oke dok." kata saya sambil senyum-senyum panik. (saya kalau deg-degan biasanya cengengesan).
Pulang dari bu dokter, mata saya masih kabur dan semua cahaya terlihat jauh lebih terang. Itu efek cairan tetesan mata yang membuat pupilnya terbuka. Saya segera kabari suami dan ngga mau mikir macem-macem. Takut pasti ya. Tapi kok tadi muka dokternya agak excited kayak saya berhasil lihat mamalia di hutan sih. Hahahaa. Jadi bingung kan.

Yaudahlah. Saya pulang aja. Sepanjang jalan hp saya taruh di tas, ngga berani googling sendiri. Saya mau mikirnya nanti aja di rumah. Takut ngga siap mental.

Saya ngga nyangka pertemuan dengan dokter mata itu menjadi awal dari perjalanan panjang saya bersama dokter mata. Apa itu Ablasio Retina? Insya Allah saya akan ceritain bagaimana perjalanan panjang ini. Semoga bisa bermanfaat buat orang lain yang kebetulan kena Ablasio juga.
Setelah tinggal dua pekan di rumah baru, saya dan suami menggelar syukuran sederhana. Buat kami ini pengalaman baru, karena sebelumnya kami belum pernah menyelenggarakan acara resmi yang mengundang banyak orang ke rumah.

Akhirnya setelah diskusi, kami sepakat menggelar dua kali acara, yang pertama khusus untuk keluarga, yang kedua untuk teman-teman. Kalau digabung sepertinya ngga akan muat rumahnya, hehehe. Saya berbagi tugas dengan suami, saya fokus urusan selamatan ini, suami fokus ke rapi-rapi rumah. Jadi urusan tata letak barang-barang di rumah saya serahkan sepenuhnya ke suami, suami pun demikian ke saya, saya bebas mengatur acara syukuran ini.

Yeayy!
Saya membuat undangan sederhana, pakai power point. Maklum saya tidak terlalu bisa desain, jadi seadanya saja semuanya. Undangan syukuran ini saya sebarkan via WhatsApp. Untuk acara keluarga dan acara teman-teman pun hanya dibedakan di tanggal saja, jadi tidak perlu buat design ulang. Saya cukup senang dengan hasilnya, walaupun sederhana tapi tetap terlihat apik. Bikin sendiri juga.

Bagian paling membingungkan tentunya kursi dan alat-alat rumah tangga lainnya. Saya ngga punya kursi banyak. Sebenarnya bisa pinjam punya RT, tapi saya waktu itu belum tau dan terlalu malu-malu untuk bertanya banyak ke Pak RT. Hahaha. Untungnya ibu saya punya banyak kursi plastik, jadi boyongan bawa meja lipat, kursi, alat makan, sendok, dan lain-lain dari rumah orang tua saya. Masakan pastinya buatan Ibu Bapak saya yang rasanya tidak diragukan lagi.





Saya senang sekali saat ada banyak tamu yang datang, terutama dari keluarga besar saya. Teman-teman pun banyak yang datang. Saya senang sekali mereka semua menyempatkan waktunya untuk main ke rumah kami yang jauhnya ampun-ampunan.

Terima kasih banyak semua yang menyempatkan hadir. Semoga kapan-kapan mau main lagi ke rumahku ya!
Sudah lama banget ngga cerita-cerita di blog ini.. Emang setelah berkeluarga, kehidupan jadi sedikit berubah. Dulu sambil bengong malem-malem bisa menulis apapun. Sekarang kalau bengong enaknya gangguin suami. Hahahaa..

Sedikit cerita tentang keluarga kecil saya. Setelah menikah, alhamdulillah kami sudah ada rumah yang bisa ditempati. Kami tinggal di rumah dinas milik ayahnya suami saya. Rumah ini sudah ditempati suami saya sebelum kami menikah. Rejeki banget bisa sudah ada tempat tinggal untuk ditinggali berdua. Di dalamnya pun sudah ada barang perkakas rumah tangga, jadi kami ngga harus beli barang mengisi rumah dulu. Lokasinya sangat strategis, di tengah kota, dekat dari rumah mertua dan orang tua, saya bisa sering mengundang teman-teman untuk main ke rumah kami. Rejeki banget deh punya mertua baik hati!
Selalu seneng kalau rumah ke datangan tamu
kumpul-kumpul bersama teman
Tapi manusia memang tidak pernah puas yah. Di rumah ini ada yang bikin kami berdua ngga kuat banget. Mungkin temen-temen di Facebook saya udah tau, masalah kucing tetanggaa. Hiks! Tetangga di rumah kami itu kebanyakan pensiunan yang suka pelihara kucing. Ngga tanggung-tanggung, tetangga sebelah kiri pelihara 10 kucing dan tetangga kanan pelihara 5 kucing. Mereka juga ngga ngaku itu peliharaan mereka, karena mereka 'cuma' memberi makan setiap hari. Mereka anggap memelihara itu kalau pelihara di dalam rumah, tidak termasuk yang di luar rumah. Padahal yang di luar rumah jauh lebih banyak dan ganggu tetangga.

Baca juga: Saya Pasca Menikah

Yaa namanya juga kucing liar ya, ngga pernah diajarin toilet training, akhirnya kucing-kucing itu pup di sembarang tempat. Di pinggir jalan, depan rumah, garasi, teras, taman, plafon rumah, genteng, dimana-mana banget. Saya dan suami mesti banget bersihin pup kucing tetangga minimal 3 pup setiap hari. Kalau lagi rejeki ngga ada pup, pasti masih kebagian semriwing bau pipis kucing dari tetangga sebelah. Bayangin aja, pulang kerja capek banget, eh sampe rumah masih harus bersihin pup kucing tetangga. Bangun pagi buka pintu untuk menghirup udara segar, yang kecium bau pipis kucing. Duh, ngga kuat banget deh! Super sedih dan ngga akan ada habisnya bahas masalah perkucingan ini.

Gara-gara masalah kucing ini, saya dan suami jadi ingin sekali punya rumah sendiri yang bebas dari geng kucing. Sambil bersihin pup kucing tetangga, kami setiap hari berdoa yang banyak biar dapat rejeki untuk beli rumah. Nabung yang banyak. Sampai akhirnya setelah kami merayakan anniversary pertama, kami bertekad memberanikan diri cari rumah.

Singkat cerita kami akhirnya random mau survey rumah. Suamiku janjian sama penjual rumah di Bojong Gede, saya janjian sama yang di Citayam. Hari Sabtu kami naik kereta pagi-pagi ke Bojong Gede. Rasanya jauuuh banget Bojong Gede. Ngga sampai-sampai. Dari stasiun masih harus naik angkot dua kali dan sambung dengan ojek untuk masuk ke dalam kompleknya. Kami juga kurang suka sama rumahnya. Sesudah dari Bojong kami ke Citayam. Rumah di Citayam ini rumahnya temen kakak kelas saya di kampus. Saya lihat informasi penjualan rumah dari sharing-an kakak kelas itu.

Pas masuk komplek rumah di Citayam, kami agak deg-deg-an. Kompleknya bagus banget yang model cluster dan ngga pakai pagar rumah. Ya Allah ini mah jauh labih bagus dari bayangan kami berdua. Setelah ngobrol dengan pemilik rumah dan lihat bentuk rumahnya, kami jadi makin jatuh cinta. Tapi yaa gimana yaa.. Kami sama-sama sadar, ini mah too good to be true. Budget kami belum cukup untuk beli rumah itu. Kami galau banget.

Kegalauan ini pun kami ceritakan ke pemilik rumah. Kami beberapa kali ketemu mereka. Ternyata meskipun ada beberapa calon pembeli lainnya, mereka lebih sreg jual rumah ke kami. Mereka ingat perjuangan dulu saat mereka beli rumah pertama. Mereka pun meyakinkan kami agar lebih PD coba apply KPR ke bank. Mereka pun bantu banget prosesnya. Akhirnya kami berdua beraniin nyoba dan ternyata disetujui oleh bank lho!

Kami di rumah baru. Yeaaay

Seneng banget! Saya dan suami menempati rumah baru kami sejak tanggal 4 April 2016. Jadi kado ulang tahun saya yang ke 25. Kado paling nyenengin sedunia!

Alhamdulillah banget saya sangat bersyukur Allah kasih kami berdua kesempatan untuk punya rumah sendiri. Saya juga bersyukur punya suami yang baik dan sabar banget. Emang Allah kalau memberikan rejeki suka ada aja aja jalannya yang ngga terduga. Alhamdulillah.
Saat ini lebih dari 50 persen manusia tinggal di kota dan angka ini akan terus bertambah hingga 60 persen pada tahun 2030. 50 persen populasi manusia itu artinya sekitar 3,7 miliar orang atau tiga kali lipat populasi manusia di India saat ini.

Kota menghadapi berbagai tantangan kronis dan akut. Tekanan akut (shock) maksudnya adalah tekanan yang mendadak, misalnya gempa bumi, banjir, wabah penyakit, serangan teroris, dan lain-lain. Sedangkan tekanan kronis (stress) artinya tekanan yang terjadi dalam jangka panjang, misalnya pengangguran tinggi, polusi udara, kemacetan, dan sebagainya. Tekanan-tekanan ini bisa menyebabkan berbagai masalah, oleh karena itu kota harus memiliki kemampuan bertahan dari tekanan (kota berketahanan - resilient city). Kemampuan sebuah kota untuk bertahan dalam segala bentuk tantangan sangat penting mengingat mayoritas populasi manusia tinggal dan melakukan kegiatan ekonomi di daerah tersebut.

Kota berketahanan adalah kota yang mampu beradaptasi, bertahan, dan tumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk mendorong kota-kota di seluruh dunia mampu lebih bertahan terhadap tantangan fisik, sosial, dan ekonomi, the Rockefeller Foundation mendirikan 100 Resilient Cities (100 RC). Saat ini hanya 100 kota yang dibantu 100 RC, termasuk kota Jakarta dan Semarang.

Kota-kota yang masuk ke dalam 100 RC akan mendapatkan berbagai bantuan, antara lain:
  • Bantuan finansial dan logistik untuk membentuk posisi baru di pemerintahan yang disebut Chief Resilience Officer (CRO). CRO ini yang akan mendorong ketahanan di setiap kota.
  • Bantuan para ahli untuk membangun strategi ketahanan kota
  • Akses terhadap solusi-solusi, partner, service provider, dan lain-lain
  • Keanggotaan untuk jejaring global di seluruh dunia yang masuk ke dalam 100 RC

Framework Kota Berketahanan
Dua pekan lalu saya berkesempatan mengikuti diskusi kota berketahanan dalam acara Lokakarya Perdana Jakarta Menuju Kota Berketahanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta dan 100 Resilient Cities. Menarik sekali acara diskusi ini. Saya jadi lebih paham berbagai tantangan yang dialami oleh kota.

Salah satu pembicaranya Bapak Purnomo Dwi Sasongko, CRO Kota Semarang. Semarang memang sudah lebih dulu menjadi bagian dari 100 RC. Di Semarang Pak Purnomo melibatkan pemuda juga lho. Beliau dan tim nya datang dan melakukan kegiatan tentang kota tangguh ke anak-anak TK hingga SMP. Keren banget!

Selain Pak Purnomo ada juga pembicara dari Singapura dan Bangkok yang menceritakan permasalahan di kota mereka. Memang setiap kota memiliki karakteristik, masalah, dan kekuatan masing-masing. Jadi kita tidak bisa menyamakan satu kota dengan kota lainnya. Poin tersebut juga ditekankan oleh Prof. Jo Santoso, sebagai pembahas. Selain itu Prof. Jo juga mengatakan, untuk Jakarta, kita juga perlu melihat gap sosial dalam pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya dapat dinikmati oleh orang yang memiliki banyak uang.

Setelah sesi panelis, kami berdiskusi kelompok memetakan permasalahan kritis dan kronis kota Jakarta dan apa saja kekuatan Jakarta hingga saat ini. Menurut kelompok kami masalah kronis utama Jakarta adalah macet. Kemacetan Jakarta itu merembet ke berbagai masalah lainnya, misalnya polusi udara. Pernah ngga sih sesak napas kalau lagi naik ojeg di tengah kemacetan Jakarta? Saya sih sering sekali. Selain itu juga mempengaruhi ekonomi, tingkat stress bisa meningkat dan kesehatan bisa terganggu. Selain macet masalah kronis lainnya adalah penurunan tanah. Laju penurunan tanah di Jakarta itu mencapai 1 - 11 cm per tahun, lho!

Kami berdiskusi memetakan kekuatan dan kelemahan DKI Jakarta

Diskusi dan lokakarya ini seru banget, peserta dari berbagai pemangku kepentingan: pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu peserta yang hadir juga beragam dari Professor sampai yang masih mahasiswa. Seru banget deh.

Semoga kota Jakarta mampu menjadi kota berketahanan ya!
Beberapa hari lalu, Research Center for Climate Change Universitas Indonesia mengadakan acara bersama dengan National Geographic Indonesia yang berjudul Young Explorer Grants Workshop di Ruang Apung, Universitas Indonesia. Acara ini adalah acara terbesar di Indonesia untuk mempromosikan hibah penelitian National Geographic untuk anak muda di seluruh dunia.

Buat teman-teman yang ngga bisa hadir, yuk baca rangkumannya!

***

Di awal acara, Ketua RCCC UI, Bapak Jatna Supriatna membuka acara dengan menyemangati para pemuda untuk mengeksplorasi Indonesia. Eksplorasi itu sangat penting, kita bisa mempelajari berbagai macam hal dari setiap perjalanan. Pak Jatna sendiri telah berkelana ke hampir ke seluruh Indonesia juga taman nasional di luar negeri untuk belajar mengenai biodiversitas dan konservasi. Cerita-cerita beliau tentang beberapa perjalanan tersebut bisa dibaca di buku terbaru beliau lho!

Pak Jatna Supriatna, menyemangati para pemuda Indonesia (photo credit: Jakakatua)
Pada sesi selanjutnya, ada empat penerima Young Explorers Grant yang bercerita tentang pengalaman mereka saat mengikuti proses hibah ini dan proyek yang mereka lakukan.

Penjelajah pertama adalah Mark Phoung, mahasiswa Ph.D. University of California, yang jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu kelompok organisme lebih beragam dibandingkan dengan kelompok organisme lainnya. Dalam penelitiannya, ia memakai contoh hewan Conus, di wilayah laut Indonesia. Ia menekankan, untuk mendapatkan hibah penelitian, kita perlu memiliki pertanyaan penting yang perlu dijawab. Hal ini juga pernah ditekankan oleh pembimbing skripsi saya, Ibu Yani. Nah, bagaimana kita bisa merumuskan pertanyaan yang penting itu, yaa.. dengan cara banyak membaca, diskusi dan bertanya kepada yang lebih ahli. Juga jangan sungkan untuk meminta tolong kepada orang lain yang lebih ahli, atau kontak semua orang melalui email.

Mark Phoung, penerima hibah Young Explorer Grant (photo credit : Jakakatua)
Hannah Reyes
(Photo credit: Jakakatua)
Penjelajah muda kedua datang dari Filipina, Hannah Reyes. Perempuan yang besar dan lahir di Filipina ini menemukan, mendokumentasikan, dan menceritakan transisi yang terjadi pada masyarakat adat di 3 tempat di Filipina, seperti perubahan agama, cara pandang hidup, pakaian, adat istiadat, makanan, dan lain sebagainya. Kekuatan dari proyeknya adalah dari bagaimana kemampuannya menceritakan kembali transisi itu melalui dokumentasi dan cerita yang menarik. Hannah juga berkisah, saat pertama kali melihat proyek-proyek yang telah didanai oleh National Geographic, ia pun merasa tertekan karena banyak sekali proyek Young Explorer yang keren-keren, tapi jangan khawatir, kita juga pasti bisa seperti mereka. Tenang aja, semua pasti ada prosesnya dan bisa diperjuangkan. Proyek yang telah ia jalani ini membuka berbagai kesempatan kolaborasi baru dengan National Geographic dan juga mengantarkannya menjadi fotografer profesional.

Yang ketiga adalah pria dari Puerto Rico yang mempelajari tentang Orangutan di Gunung Palung, bernama Robert Rodriguez Suro. Menurut Robert, bagian paling penting adalah mendapatkan ide proyek yang kuat. Ia sendiri mendapatkan ide proyek setelah tinggal beberapa bulan di Gunung Palung dan berdiskusi dengan peneliti yang lebih senior. Ia kemudian mengembangkan ide tersebut. Salah satu penemuan kerennya setelah satu bulan melakukan proyeknya, ia mendokumentasikan Orangutan sedang berciuman! Hahahaa menarik sekali ya!

Terakhir, ada Prasenjeet Yadav dari India yang melakukan penelitian tentang habitat di India. Saya agak-agak kelewat nih pas beliau presentasi, karena pas lagi ada kerjaan yang lain. Uups maaf banget :(

Setelah mendengar cerita dari para penjelajah muda ini, sangat menarik melihat banyak anak muda dari luar negeri pergi ke Indonesia untuk cari ilmu dari biodiversitas Indonesia. Kenapa malah kita yang tinggal di Indonesia belum banyak yang bergerak untuk belajar dan mengeksplorasinya ya.. Padahal kita lebih dekat. Ayolah yuk kita yang tinggal di negara kepulauan terbesar di dunia, punya suku bangsa yang sangat beragam, spesies-spesies endemik, dan ekosistem lengkap, yuk kita eksplorasi dan pelajari bersama-sama!

Oiya, kalau dilihat dari seluruh pembicara muda itu, setiap orang memiliki website yang representatif dan profesional. Mereka menampilkan hasil karyanya secara komprehensif di website pribadi dan berbagai media. Mereka juga memiliki kemampuan fotografi dan storytelling yang kuat. Memang dua kemampuan itu sangat penting untuk menjadi modal eksplorasi terutama bagi National Geographic. Salut banget ya.. Kita bisa belajar banyak nih dari mereka..

Setelah para penjelajah muda ini bercerita, ada cerita juga dari Robert Lee, Director Science, Exploration and Science National Geographic. Beliau bercerita tentang proyek yang pernah dia kerjakan di Sulawesi tentang penangkapan liar populasi monyet. Ia juga menekankan, kita harus sabar, jangan menyerah kalau gagal. Pak Rob Lee sendiri mendapatkan dana hibah pertamanya setelah 10 kali daftar. Jadi, sabar.. sabar.. sabar.. Coba terus dan jangan menutup diri dari segala kemungkinan juga jangan menyerah. Jalannya mungin ngga selalu lancar, tapi kita harus tetap mencoba sambil memperbaiki diri. Selain itu ada juga Pak Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, yang menyarankan untuk menemukan hasrat kita apa, lalu dukung dengan data yang kuat, sehingga kita tau mau apa dan harus bagaimana.

Robert Lee (kiri) dan Didi Kaspi Kasim (kanan) berdiskusi dengan para peserta lokakarya (photo credit: Jakakatua) 
Diskusi di akhir acara (photo credit : Jakakatua)

***

Young Explorers Grant adalah kesempatan hibah yang diberikan kepada individu berumur 18 sampai 25 tahun (atau sebelum 26 tahun) untuk mewujudkan penelitian, konservasi, dan proyek eksplorasi dari National Geographic. Dari penjelasan kemarin, ada 3 tipe proyek yang bisa kita pilih salah satu dan masing-masing punya hal-hal yang perlu perhatikan:

Hypothesis - Driven Research
- Konteks yang saintifik
- Pertanyaan yang penting
- Metode

Media - Driven Storytelling
- Visual yang bagus
- Ide original
- Potensi cerita yang menarik

Applied Conservation
- Kebutuhan yang jelas tentang aksi konservasi
- Pendekatan inovatif

dan yang paling penting adalah kenapa kamu adalah orang yang tepat untuk mendapatkan proyek tersebut.

Secara lebih lengkap gimana tata cara mengajukan hibahnya bisa dilihat di sini.

Kalau kamu tertarik mengajukan hibah, ada juga beberapa saran yang dirangkum dari acara ini:


Poin penting saat sesi tanya jawab:

Apakah akan ada mentor atau advisor dari National Geographic?
   Biasanya cari mentor sendiri, namun bisa juga kisa kontak program managers Nat Geo:
   Katia Andreassi - ecouncil@ngs.org
   Rob Lee - roblee@ngs.org
   Aram Lee - arlee@ngs.org

Gimana kalau kita ngga bisa fotografi?
   Cari fotografer, lalu masukkan ke dalam tim kamu.

Apa yang membuat proposal kita kuat?
   Kamu harus membuat orang lain semangat dengan proyek kamu. Bayangkan kamu cerita kepada teman dekat kamu dan kamu bisa membuat mereka juga excited. That quality is important. Juga tunjukkan kenapa proyek itu penting dan penting dilakukan sekarang. Kamu harus fokus pada produk dan bisa memasukkan member yang ahli di bidangnya.

Bagaimana cara mendaftar secara lebih lengkap dalam Young Explorers Grant, bisa dilihat melalui link ini.

***

Jadi gimana, yuk kita daftaar! Kasih tau teman-teman lainnya para penjelajah muda!

Semoga bermanfaat!

Salam hangat dari meja registrasi (saya dan sisil hahahaa..)

Saya suka takjup dan kagum sama teman yang semangat banget ikutan lomba ini itu, berprestasi di sana-sini, menang banyak penghargaan, dan coba segala macam yang baru. Dalam pikiran saya, mereka ini kok ya bisa rajin dan tekun buat ikut-ikutan lomba kayak gitu. Pasti kan setiap lomba ada persiapan yang ngga gampang. Dan dibalik lombanya, mereka tentu punya 'sesuatu' yang membuat diri mereka spesial. Ide-ide brilian, gerakan yang berdampak tinggi, atau sesederhana mau mencoba sesuatu yang baru.

Ada beberapa 2 teman yang menurut saya, berprestasi dan keren banget:

Alia Noor Anoviar. Perempuan yang ramah dan cantik ini adalah pendiri Dreamdelion. Awalnya Dreamdelion itu cuma dari tugas kuliahnya Alia aja, terus dia ditantang sama dosennya untuk berbuat sesuatu, and she did it! Dia bikin pemberdayaan masyarakat dan anak-anak, mengajarkan ibu-ibu membuat suvenir-suvenir unik, juga bikin perubahan di daerah binaannya. Awalnya di Manggarai, pas banget seberang alfamart dekat stasiun Manggarai itu. Tapi Alia ini orangnya ngga bisa diem, pinter kerja keras dan cerdas menjemput kesempatan-kesempatan yang ada, akhirnya sekarang Dreamdelion udah ada juga di Jogja dan Ngawi, dan beberapa RT di Manggarai. Dari perjalanan karirnya, Alia seneng ikutan lomba-lomba ini itu, selain bisa bisa ketemu dengan jejaring baru, dapat pengalaman baru, mengenalkan Dreamdelion ke lebih banyak orang, dan kalau menang hadiahnya bisa buat kemajuan Dreamdelion terutama di masa awal. Alia juga ngga mau hebat sendiri, dia selalu semangatin dan support penuh tim nya untuk juga maju dan berprestasi. Ngga heran kalau tim Dreamdelion banyak banget orang-orang yang berprestasi. Keren! Kalau mau lihat prestasi lengkap Alia, cek aja nih Linkedin nya.

Alia, sang penggerak mimpi
Abdul Basir. Kalau Abas ini ketua angkatan saya di Biologi UI 2008. Dia ini anaknya gampang deket sama semua orang, perhatian sama semua orang, juga seneng banget ikutan lomba ini itu. Dari mulai lomba blog, foto, poster, bisnis, kayaknya pernah deh dia cobain. Sekarang Abas sedang merintis start up di bidang edukasi, Salman Edukasi dan Rumah Sinau. Berita terkini dari dia, Rumah Sinau menjadi pemenang dalam kompetisi yang oleh Google Indonesia lho, keren banget! Sama kayak Alia, Abas juga selalu percaya sama kemampuan partner nya dan akan mendorong partner kerjanya menjadi berani berkreasi lebih baik.

Saya, Abas, dan Eru dalam acara MUN 2012. Kala itu Abas adalah ketua panitia yang pantang menyerah. Bangga!

Kalau saya sih, jarang banget ikutan lomba-lomba. Tapi bulan lalu saya, yang selalu ngga pede kalau ikutan lomba ini, iseng-iseng aja ikutan lombanya Niro Granite. Lombanya sesederhana nulis di blog sih tentang rumah impian. Alhamdulillah banget menang juara hiburan.. Dan ternyata menang itu menyenangkan! Bikin pingin ikutan lomba-lomba lagi. Mungkin ini kali ya yang diperlukan supaya kita lebih optimis: coba sesuatu yang baru, tantang diri sendiri, coba untuk menang, dan ngga takut gagal. Karena menang itu bikin ketagihan. Ngga heran ada anak-anak muda yang jadi achievement junkie.

Oiya hadiah lomba Niro Granite nya adalah voucher Carrefour. Pas banget! Saya dan Mirza belanja bulanannya selalu di Carrefour dekat rumah, harganya banyak yang lebih ekonomis dan ngga terlalu ramai. Horee hemat Rp 500,000!

Mirza juga iseng-iseng ikutan lomba internal kantornya, foto tentang MRT Jakarta. Dia juga menang juara 3. Hadiahnya medali dan voucher belanja MAP Rp 200,000, buat beli buku sama traktir saya Burger King katanya.. Selamat ya sayang! Yeay!


Voucher belanja hadiah dari Niro Granite!
Medali hadiahnya Mirza

***

Kamu pernah ikutan lomba juga ngga? Ceritain dong gimana rasa seneng nya saat menang dan sampe bikin ketagihan atau ngga?