Showing posts with label sains. Show all posts
Showing posts with label sains. Show all posts
Halo halo,

Beberapa minggu lalu saya diajak karyawisata sama dosen pembimbing. Katanya dia mau kasih lihat vegetasi di sini seperti apa dan penelitian-penelitian yang dilakukan di sini tuh kayak apa aja. Kami bertiga: saya, Pak Guru, dan Kat (rekan seperjuangan), pergi ke hutan pinus ponderosa bekas kebakaran. Lokasinya ngga jauh dari kampus, mungkin hanya sekitar 20 menit perjalanan.

Kebakaran memang sudah menjadi hal rutin yang dialami hutan di daerah Barat Daya (Southwest) Amerika . Dulu setiap 5 tahun sekali bisa terjadi kebakaran. Sampai akhirnya tahun 1910-an pemerintah membuat kebijakan untuk menekan laju kebakaran hutan. Ditambah lagi, mulai banyak pemukiman penduduk yang masuk ke kawasan hutan, sehingga kebakaran-kebakaran kecil berhasil dikurangi.

Ternyata eh ternyata, kebakaran yang dulu biasa terjadi selama 5-10 tahun sekali tuh punya dampak besar bagi ekosistem. Kebakaran bisa membersihkan tumbuhan tingkat bawah dan mencegah akumulasi bahan kebakaran di masa mendatang. Frekuensi kebakaran yang berhasil diturunkan oleh pemerintah, ternyata malah membuat kebakaran semakin parah. Karena ngga ada kebakaran kecil lagi, tumbuhan tingkat bawah bisa tumbuh subur dan menjadi bahan bakar yang sangat banyak buat kebakaran di masa mendatang. Jadilah kebakaran yang terjadi jauh lebih besar dan lebih parah dari kebakaran rutin yang dulu terjadi. 


Ini contoh bekas kebakaran yang saya kunjungi. Kebakaran besar terjadi di tahun 2015 dan membuat banyak pohon-pohon mati tak berbekas. Kini sudah kelihatan tumbuhan pionir seperti rerumputan, semak, dan tunas pohon pinus baru. Kalau kebakarannya besar dan sampai menghabiskan kanopi pohon biasanya disebut crown fire. Biasanya kebakaran crown fire tuh bisa bikin hutan tak bersisa. 





















Hutan di sini memang rentan sekali terjadi kebakaran, terutama di musim panas. Curah hujan yang rendah membuat udara, vegetasi, dan tanah menjadi kering dan mudah terbakar. Foto di atas terlihat ada tiga pohon besar yang terbakar puluhan tahun yang lalu. Pada saat itu, angin berhembus kencang sekali dari arah kiri ke kanan. Akhirnya semua pohon jatuhnya ke sisi kanan. Pohon yang sebesar itu pun akhirnya bisa diluluhkan juga oleh api dan angin. Beberapa puluh tahun kemudian, regenerasi pohon pinus yang lebih muda terlihat mulai bermunculan dan mendominasi kawasan.

Nah, gimana sih cara peneliti tau dulu bisa terjadi kebakaran 5-10 tahun sekali? Mereka pakai ilmu kehutanan yang namanya dendrokronologi. Dendrokronologi itu ilmu yang mempelajari lingkar tahun pada pohon dan digunakan untuk melihat kejadian historis di masa lampau. Dari potongan pohon yang sudah mati, kita bisa melihat luka karena kebakaran (fire scar). Terus si luka itu dihitung terjadinya tahun berapa. Seru banget ya ternyata dari lingkar tahun kita bisa melihat sejarah. Saya baru tau tentang beginian!

Kebetulan pembimbing saya, namanya Peter Fule dipanggilnya Pete, ahli di bidang ini. Jadi dia kalau lagi cerita tuh seru banget. Mana ternyata ilmu tentang lingkar tahun ini pertama kali ditemukan di Arizona. Bener-bener pas banget saya berada di pusatnya. Hahaha. Seru!! 


Pohon pinus yang selamat dari kebakaran, melanjutkan hidupnya sampai beratus-ratus tahun kemudian. Saya juga baru tau ternyata pohon pinus di sini walaupun ukurannya ngga terlalu besar tapi umurnya bisa sampai ratusan tahun. Pohon di atas ini misalnya, diameter sekitar 60 cm, kemungkinan umurnya 500 tahunan. Ciri-ciri pinus Ponderosa yang sudah tua bisa dilihat dari kulit kayunya yang berwarna kejinggaan, hanya sedikit warna cokelat-cokelatnya. Wangi kulit kayunya juga khas, seperti wangi vanila. Kita juga bisa lihat dahan bagian bawah banyak yang patah, akibat kebakaran yang pernah dia alami. Untung dia masih bisa melanjutkan hidup dan tumbuh besar ya.

Selain berkunjung ke hutan bekas kebakaran, saya juga berkunjung ke plot permanen tempat eksperimen managemen hutan. Kampus ku, Northern Arizona University (NAU) bekerja sama dengan USDA Forest Services untuk bikin plot permanen ini. Di lokasi yang saya kunjungi, mereka melakukan penelitian dinamika hutan terutama untuk mengurangi kebakaran hutan besar. Ada tiga plot di sini, pertama plot kontrol, kedua plot vegetasi yang sengaja dibikin kebakaran kecil (prescribed fire), dan plot ketiga yaitu tempat mereka melakukan pemangkasan pohon. 

Sebentar, gimana sih kok mencegah kebakaran tapi malah sengaja ngebakar?? Bingung saya! Ternyata mereka tuh sengaja bikin kebakaran permukaan (surface fire), supaya tumbuhan tingkat bawah (si bahan bakar kebakaran) bisa mati. Biar kalaupun ada kebakaran, ngga terlalu heboh atau besar banget gitu lho. Mereka juga melakukan pemangkasan pohon supaya pohon nya ngga terlalu padat. Ternyata kalau pohonnya terlalu padat juga bikin hutannya rentan kena kebakaran.


Kompleks banget masalah kebakaran di sini. Saya jadi inget di Indonesia, kan juga sering kebakaran ya.. Apa ada kebakaran yang emang bagus buat ekosistem di sana ya? Saya ngga tau. Sebelumnya saya belum pernah belajar tentang kebakaran di Indonesia, jadi belum tau banyak. Sejauh ini yang saya tau, kebanyakan kebakaran besar terjadi di hutan gambut karena apinya ada di bawah permukaan. Tapi kan ada juga masyarakat lokal yang melakukan prescribe fire pada ladang berpindah. Apakah ekosistemnya diuntungkan juga ya sama kebakaran itu? Saya ngga tau euuy. Semoga bisa belajar tentang ini ya tahun depan pas balik ke Indonesia.

Saya seneng banget diajak karyawisata privat sama Pak Guru. Bisa belajar langsung dari ahlinya dan dia nyempetin waktu gitu lho buat ngajarin mahasiswa bimbingannya. Kadang-kadang suka lucu, dia suka ngetes saya tau apa ngga dasar-dasar pengetahuan lapangan atau ekologi, atau apapun. Terus kalau saya ngga tau, ya seperti biasa, saya cengar cengir aja hahahaa. Duh maap Pak, saya ngga pinter-pinter amat hehe. Untungnya dia baik ya, bakal jelasin sejelas-jelasnya kalau saya ada yang ngga ngerti. Lain kali kalau mau diajak karyawisata, saya belajar dulu deh biar ngga malu-maluin hahaha.


Ini dia Pak Guru dan rekan seperjuangan. Semoga bisa belajar lebih banyak lagi di sini.

Salam hangat dari Flagstaff!
Kata orang, di Flagstaff itu hanya ada empat musim: winter-winter-winter-construction. Hahaha. Kebetulan saya datang pada musim konstruksi, dimana ada matahari di siang hari dan jarang hujan. Banyak banget konstruksi rumah, gedung, dan sebagainya di sini. Mumpung ngga ada salju kali yaa.

Sekarang siang hari di sini sekitar 23 - 26 derajat Celcius, rasanya kayak pakai AC kalau mau bobo di rumah. Hanya saja kadang anginnya yang bikin semriwing. Malam hari, bisa mencapai 9 - 10 derajat. Dingin banget ya Allah. Jadi kalau mau pulang malem, mesti banget siap sedia jaket biar ngga semriwing.

Bagian cantiknya dari musim panas di Kota Flagstaff, banyak sekali kebun yang penuh bunga-bunga cantik. Apalagi di kampus Northern Arizona University (NAU). Mereka pinter banget menyusun bebungaan sampai jadi taman yang cantik kayak gini. Berasa kayak di Malang kan yaaaa. Gemez.


Saya senang sekali dengan sambutan yang hangat ini. Bunga-bunga cantik itu rajin saya foto-fotoin. Terus saya pikir, sayang banget kalau cuma ada di galeri foto di handphone saya.

Akhirnya saya masukkan ke instagram khusus yang bernama Plants of Flagstaff. Saya buat akun instagram ini sebenarnya untuk diri sendiri, biar lihatnya lebih mudah, ngga kecampur sama foto-foto lainnya. Tapi mungkin ada orang lain yang juga suka dengan keindahan ini dan pengen tau juga nama spesies nya apa.





Saya juga ngga tau apakah sudah benar mengidentifikasinya atau belum. Bahkan banyak yang masih kosong, belum tau namanya apa. Biasanya saya identifikasi pakai buku Southwestern and Texas Wildflowers nya Niehaus, Ripper, dan Savage, pinjaman dari pembimbing.

Jikalau ada yang tau kalau saya salah ID, tolong kasih tau saya yaa!!

Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
Saat ini lebih dari 50 persen manusia tinggal di kota dan angka ini akan terus bertambah hingga 60 persen pada tahun 2030. 50 persen populasi manusia itu artinya sekitar 3,7 miliar orang atau tiga kali lipat populasi manusia di India saat ini.

Kota menghadapi berbagai tantangan kronis dan akut. Tekanan akut (shock) maksudnya adalah tekanan yang mendadak, misalnya gempa bumi, banjir, wabah penyakit, serangan teroris, dan lain-lain. Sedangkan tekanan kronis (stress) artinya tekanan yang terjadi dalam jangka panjang, misalnya pengangguran tinggi, polusi udara, kemacetan, dan sebagainya. Tekanan-tekanan ini bisa menyebabkan berbagai masalah, oleh karena itu kota harus memiliki kemampuan bertahan dari tekanan (kota berketahanan - resilient city). Kemampuan sebuah kota untuk bertahan dalam segala bentuk tantangan sangat penting mengingat mayoritas populasi manusia tinggal dan melakukan kegiatan ekonomi di daerah tersebut.

Kota berketahanan adalah kota yang mampu beradaptasi, bertahan, dan tumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk mendorong kota-kota di seluruh dunia mampu lebih bertahan terhadap tantangan fisik, sosial, dan ekonomi, the Rockefeller Foundation mendirikan 100 Resilient Cities (100 RC). Saat ini hanya 100 kota yang dibantu 100 RC, termasuk kota Jakarta dan Semarang.

Kota-kota yang masuk ke dalam 100 RC akan mendapatkan berbagai bantuan, antara lain:
  • Bantuan finansial dan logistik untuk membentuk posisi baru di pemerintahan yang disebut Chief Resilience Officer (CRO). CRO ini yang akan mendorong ketahanan di setiap kota.
  • Bantuan para ahli untuk membangun strategi ketahanan kota
  • Akses terhadap solusi-solusi, partner, service provider, dan lain-lain
  • Keanggotaan untuk jejaring global di seluruh dunia yang masuk ke dalam 100 RC

Framework Kota Berketahanan
Dua pekan lalu saya berkesempatan mengikuti diskusi kota berketahanan dalam acara Lokakarya Perdana Jakarta Menuju Kota Berketahanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta dan 100 Resilient Cities. Menarik sekali acara diskusi ini. Saya jadi lebih paham berbagai tantangan yang dialami oleh kota.

Salah satu pembicaranya Bapak Purnomo Dwi Sasongko, CRO Kota Semarang. Semarang memang sudah lebih dulu menjadi bagian dari 100 RC. Di Semarang Pak Purnomo melibatkan pemuda juga lho. Beliau dan tim nya datang dan melakukan kegiatan tentang kota tangguh ke anak-anak TK hingga SMP. Keren banget!

Selain Pak Purnomo ada juga pembicara dari Singapura dan Bangkok yang menceritakan permasalahan di kota mereka. Memang setiap kota memiliki karakteristik, masalah, dan kekuatan masing-masing. Jadi kita tidak bisa menyamakan satu kota dengan kota lainnya. Poin tersebut juga ditekankan oleh Prof. Jo Santoso, sebagai pembahas. Selain itu Prof. Jo juga mengatakan, untuk Jakarta, kita juga perlu melihat gap sosial dalam pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya dapat dinikmati oleh orang yang memiliki banyak uang.

Setelah sesi panelis, kami berdiskusi kelompok memetakan permasalahan kritis dan kronis kota Jakarta dan apa saja kekuatan Jakarta hingga saat ini. Menurut kelompok kami masalah kronis utama Jakarta adalah macet. Kemacetan Jakarta itu merembet ke berbagai masalah lainnya, misalnya polusi udara. Pernah ngga sih sesak napas kalau lagi naik ojeg di tengah kemacetan Jakarta? Saya sih sering sekali. Selain itu juga mempengaruhi ekonomi, tingkat stress bisa meningkat dan kesehatan bisa terganggu. Selain macet masalah kronis lainnya adalah penurunan tanah. Laju penurunan tanah di Jakarta itu mencapai 1 - 11 cm per tahun, lho!

Kami berdiskusi memetakan kekuatan dan kelemahan DKI Jakarta

Diskusi dan lokakarya ini seru banget, peserta dari berbagai pemangku kepentingan: pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu peserta yang hadir juga beragam dari Professor sampai yang masih mahasiswa. Seru banget deh.

Semoga kota Jakarta mampu menjadi kota berketahanan ya!
Beberapa bulan ini saya merasa ada sesuatu yang aneh dalam pengelihatan saya. Terasa lebih berbayang dan kurang fokus, tanda-tanda kacamata harus segera diganti. Akhirnya, saya, ditemani Dila dan Eru, pergi ke Depok Town Square kemarin. Mereka menemani saya membeli soft lens.

Kenapa bukannya ganti kacamata malah pake soft lens? Soalnya saya agak bosan dengan penampilan, pengen ada sesuatu yang berubah.

Kami kemarin ke toko Optik Kusuma, dan dilayani oleh mas-mas yang komunikatif. Setelah cek mata, ternyata oh ternyata minus dan silindris saya meningkat! Mata kanan dan kiri naik semua minusnya. O oo..

Sepertinya karena intensitas di depan komputer sangat padat. Ditambah lagi saya sering nonton film atau serial TV di laptop, sambil tiduran. Otomatis mata saya bekerja terus-terusan dan mengakibatkan bertambahnya minus mata.

i became a guest teacher in Semut-Semut Kindergarten in March 24th 2014.


In March 11th 2014, my friend, Restu, ask me if i can be a guest teacher in the kindergarten where she works. And i said yes! (Of course! Why would i say no?). She said the theme of this month is Earth and the Universe, so I planned some activities. I browsed in the internet and choose the main activity. I sent my plan to Restu and she was agree.

Columbia University (Center for Environment,Economy, and Society) dan Universitas Indonesia (Research Center for Climate Change) bersama mengembangkan sebuah program pelatihan bersertifikat Mitigas Perubahan Iklim dan Pembiayaan Hutan Berkelanjutan Inovatif.

 

Program Sertifikat Mitigasi Perubahan Iklim dan Pembiayaan Hutan Berkelanjutan Inovatif ini adalah yang pertama di bidangnya di Indonesia serta menggabungkan ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, dan bisnis dalam rangka mempersiapkan para profesional untuk terlibat dalam upaya konservasi hutan skala besar. Termasuk untuk mengurangi kehilangan pohon, emisi karbon, penurunan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Program sertifikat yang terdiri dari delapan kursus ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dasar dan keterampilan yang diperlukan untuk mengawasi dan atau berpartisipasi dalam proyek pengurangan deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia. Meskipun para pengembang kurikulum berkomitmen untuk menggunakan The Rainforest StandardTM(RFSTM) sebagai mekanisme untuk mengurangi emisi karbon dari konversi hutan, namun kursus dan training ini lebih umum dan berlaku untuk semua jenis proyek konservasi hutan yang melibatkan kredit karbon atau intensif keuangan lainnya.

hayhay!

pekan lalu saya sudah seminar loh! Seminar hasil penelitian yang berjudul:
"Analisis Pola Fenologi dan Struktur Komunitas Dipterocarpaceae di Stasiun Penelitian Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung"
inti dari penelitian sih buat membatu konservasi hutan Dipterocarpaceae di Indonesia. Oiyaa, Dipterocarpaceae itu lebih dikenal sebagai pohon Meranti, biasanya banyak digunakan untuk bikin mebel, rumah, dan lain-lain.

Waktu itu, penelitian saya lakukan di Stasiun Penelitian Way Canguk, saya pernah cerita juga tentang itu disini. Tempat nya seru banget!!

seminar hasil penelitian tanggal 23 Mei 2013 kemarin. Agak heboh dikit persiapannya..

Ini tempat penelitian skripsi saya! :D

Stasiun Penelian Way Canguk (SPWC atau saya nyebutnya Canguk) itu masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang dikelola oleh Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP), lokasinya di desa Pemerihan, Lampung. Saya kesana bulan Juni dan Oktober 2012 untuk ngambil data penelitian tentang Dipterocarpaceae. Buat saya, tempat ini sungguh sangat menarik, karena hutan disana masih alami dan masih banyak flora fauna yang jarang bisa ditemui di tempat lain, juga banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya dapat disana.

ini masih cerita tentang perjalanan saya ngambil data penelitian di Way Canguk, Lampung..

sebelum saya kesana, saya mengumpulkan berbagai informasi soal kondisi di lokasi, terutama dari temen-temen yang sudah pernah ke sana. Salah satu yang bener-bener saya khawatirkan dari informasi yang saya kumpulkan adalah.. di sana super banyak PACET. ya.. pacet..
Bulan Oktober lalu saya ke hutan Way Canguk untuk mengambil data pengamatan skripsi. Saya di sana sekitar 3 pekan. Nah.. di pekan kedua, kulit saya kena kutu monyet. iya. kutu monyet. Kutu monyet ini bukan kutu yang nempel di monyet (karena kalo iya, berarti saya.. jengjengjeng). Kutu monyet disebut kutu monyet karena.. kalau kena manusia, kulit yang dihisap kutu akan sangat gatal, membuat si manusia itu garuk-garuk terus kayak monyet. Ukurannya kecil sekitar 1 x 1 mm, warna nya transparan.

Kutu monyet biasanya banyak ketika musim kemarau dan ada di balik daun. Waktu itu saya bisa kena kutu monyet karena pas ngambil data penelitan, saya blusukan nerobos-nerobos pohon di hutan. Saya ngga ngeliat ada kutu, karena saya pake lengan panjang (ya iyalah) dan kutunya beneran ngga keliatan kalo ngga diliat bener. Kalau pakai lengan pendek, akan terasa si kutu itu jalan di kulit, jadi bisa segera dibuang pakai daun Selaginella.

Saya sadar kena kutu monyet setelah temen saya, Andre, gatel-gatel di tengah hutan dan minta diliat sama saya dan rekan seperjalanan (Mba Dewi & Mas Laji) apa yang bikin kulit dia gatel. Eh ternyata, Mas Laji (asisten lapangan) bilang, itu kena kutu monyet. Harus dicopotin satu-satu kutunya. Si Andre ini kena kutu banyak sekali. punggungnya kena, perut, paha, kaki, tangan, leher, banyak bangeet. Akhirnya kami bantuin Andre nyopot-nyopotin kutu, satu-satu. Saya dan Mba Dewi (rekan seperjalanan) jadi khawatir kena juga. Saya sih fix ngerasa kena, karena badan saya di beberapa tempat juga gatal.

Sampe di basecamp, kami langsung ngerebus air panas. Kata Mas Laji ini cara ampuh. Air panas (baru mendidih) disiramin ke baju yang kena kutu. Kalau ngga disiram air panas, kutu monyet ngga akan mati. Jadi kalau cuma dicuci pakai sabun, si kutu itu tetep akan nempel.

Kronologinya gini kira-kira..
belusukan nerobos daun --> kutu di balik daun ga sengaja nempel di baju --> kita ngga sadar / ngga kerasa --> kutu nyebar terutama di deket lipatan-lipatan badan atau bisa kemana aja --> kutu menghisap darah kita --> satu / dua hari kemudian kita akan terasa gatel agak sakit --> kalo baru ketauan pas fase ini, kutu sudah berubah warna menjadi agak hitam (sudah menghisap darah) --> kutu ini harus dicabut satu-satu (ngga akan ilang kalo cuma pake sabun) --> setelah kutu dicabut, bekas gigitan kutu akan terasa gatel tapi kalo tergesek akan terasa panas --> bekas gigitan kutu atau rasa gatal baru akan hilang satu sampai dua bulan kemudian.

Nah buat pencegahan, bisa pakai minyak kayu putih. Jadi minyak kayu putih bisa dibalurkan ke seluruh badan, supaya kalau kena kutu lagi, kutu itu ngga mau gigit kulit kita..

begitu pula yang saya lakukan pada hari-hari berikutnya.
saya balurkan minyak kayu putih disekujur tubuh saya sebelum berangkat ke hutan.

dan.. yang terjadi adalah..
badan saya gatal-gatal sekujur tubuh. Awalnya saya masih mikir, ini gara-gara si kutu monyet. satu hari.. dua hari.. masih gatal gatal. Lalu, saya telpon ibu saya. ngasih tau kronologinya. Dan ibu saya memberi jawaban..
dindin dari kecil emang ngga bisa kena minyak kayu putih, alergi
-__-' saya ngga tau, karena saya emang kurang suka baunya.

jadilah saya dua kali kena gatal-gatal.

Salah satu tempat yang paling saya suka adalah kampus ITB.  Saya suka sekali jalan-jalan di sana sendirian maupun ditemenin.  Kampus ITB jauh lebih kecil dibandingkan dengan Kampus UI Depok maka nya jalan-jalan ngiterin kampus ITB ngga terlalu capek.  Jalan santai bolak balik dari pintu belakang ke pintu depan aja cuma menghabiskan waktu 15 menit.  Salah satu hal yang bikin saya sangat suka jalan-jalan di ITB adalah..
Banyak bunga yang cantik
Kampus ITB banyak banget bunga-bunga cantiknya.. Naaah.. ini beberapa contoh bunga cantiknya..

Bougainvillea sp. (Bunga Kertas /  Kembang Kertas).  Bunga kertas terletak di gerbang depan ITB.  Kalo ngga salah ada dua warna dominan bunga kertas di Kampus ITB, yaitu ungu dan merah muda.  Kabarnya sih bunga yang warna ungu berbunga pas pertengahan semester, sedangkan bunga warna merah muda berbunga pas akhir semester.  Tapi kayaknya tiap saya kesana pasti berbunga deh tuh bunga kertas nya. Bunga kertas emang sering dijadikan tumbuhan hias karena bunga berwarna menarik, bunga nya rimbun, dan pohonnya mudah ditumbuhkan.  Pohon yang berasal dari Amerika Selatan dan anggota famili Nyctaginaceae ini, punya daun pelindung/spata/seludang bunga yang sering disangka bunga.  Padahal bunga asli nya ada di dalam seludang bunga tersebut dan berbentuk tabung.

    (sumber gambar: http://www.towardsoneworld.eu/toowGrnEssE6.php)
    http://www.kartuz.com/pc/10312/1GES02/Aeschynanthus+pulcher.html
http://fukuoka-edu.ac.jp/~fukuhara/keitai/kumatsudzuraka.html

Tabebula chrysantha (Tapak Kepyar). Dari Tugu Soekarno sampai depan gedung perpustakaan & gedung PAU ada bunga yang cantik banget apalagi kalau bunga nya lagi banyak.  Bunga nya berkumpul, warna nya kuning.  Bentuk bunga nya agak mirip bunga alamanda tapi kalo ini pinggir mahkota bunga nya bergelombang.  Bunga cantik dari famili Bignoniaceae ini merupakan tamanan asli Amerika Selatan dan dijadikan pohon nasional negara Venezuela.


sumber gambar: http://radio-weblogs.com/0101365/2004/04/12.html


Erythrina crista-galli (Bunga dadap merah). Bunga dadap merah banyak nih di tepi jalan di pinggir Partitur Indonesia Raya sampai Tugu Sukarno.  Bunga nya bunga majemuk, warna mahkota bunga nya merah darah.  Cantik.  Bunga dadap merah pas banget ditanam di pinggir jalan, karena selain bikin pemandangan indah dan jalanan jadi adem, bunga dadap merah juga bisa menarik perhatian burung untuk hinggap di pohon itu.  Jadi, akan banyak burung yang berada di sekitarnya.  Bunga dadap merah termasuk anggota dari famili Fabaceae.  Bunga ini berasal dari Argentina, Brazil, Paraguay, dan Uruguay.  Bahkan negara Argentina dan Uruguay menjadikannya sebagai pohon nasional.



Aeschynanthus pulcher (Bunga Lipstik).Bunga lipstik banyak ditemukan terjuntai di pinggir gedung-gedung di ITB, di samping-samping gedung teknik sipil juga ada tuh..  Bunga ini gampang kita kenali karena bentuk mahkota bunga yang bersatu atau gamopetalus, mirip lipstik.  Warna bunga nya merah kejinggaan, makin mirip lipstik deh.  Nah, si Aeschynanthus pulcher atau si bunga lipstik ini adalah salah satu dari anggota famili Gesneriaceae.  Bunga ini bunga asli Asia Selatan dan Asia Tenggara lho..
Congea velutina. Nah ini bunga yang paling saya suka di ITB.  Bunga ini banyak kita temukan di gerbang depan ITB, deketan sama bunga kertas.  Bunga nya majemuk, bentuk bunga tunggal nya unik sekali..  Ada daun pelindung bunga (brachtea) yang berwarna merah muda, kalau dilihat sepintas pasti orang mengira ini mahkota bunga.  Padahal mahkota bunga nya kecil, warna merah muda juga.  Daunnya berbulu, berhadapan, dan ada daun penumpunya. Batangnya juga berbulu..  Bunga cantik ini masuk ke dalam famili Verbenaceae dan berasal dari Thailand dan Malaysia bagian utara.


Bunga merak / Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima).  Kembang merak di ITB warnanya jingga dan kuning, tumbuh berdampingan di depan gedung apa ngga tau hehe..  Perdu ini termasuk ke dalam famili Caesalpiniaceae karena daunnya majemuk menyirip, buah nya polong-polongan, bunga nya majemuk, ada lima helai mahkota, benang sari nya panjang.  Bunga ini berasal dari daerah tropis dan subtropis Amerika.

 
    Bunga-bunga di ITB bisa tumbuh dengan cantik dan sering banget berbunga karena udaranya sejuk dan lembab, belum terkena polusi juga..

    Aah pengen sekali kesana lagiiii…

    Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan satwa dilindungi di Indonesia dan tersebar mulai dari Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Kepulauan Nusa Tenggara  Timur (Basunim ? : 12).  Meskipun satwa dilindungi, rusa timor dapat ditangkarkan sebagai upaya pemanfaatan berkelanjutan (berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan PP No 8 tahun 1999).  Upaya pemanfaatan tersebut pun dilakukan Universitas Indonesia (UI).  Sejak tahun 2009, Kampus UI Depok memiliki penangkaran rusa timor.
    Berdasarkan catatan Pengelola Lingkungan Kampus UI, pada saat awal rusa di penangkaran berjumlah 10 ekor, sedangkan kini rusa tersebut telah berkembang biak sebanyak 30.  Ruang penangkaran seluas 10.000 m2 pun terlihat terlalu sepit bagi jumlah populasi rusa yang ada.  Sehingga muncul kekhawatiran penangkaran rusa di Kampus UI Depok tidak lagi memiliki daya dukung lingkungan yang cukup untuk pertumbuhan rusa.
    Daya dukung lingkungan adalah jumlah maksimum populasi yang dapat didukung oleh ekosistem dalam kondisi yang berkelanjutan.  Faktor yang membatasi daya dukung lingkungan antara lain makanan, air, habitat, predator, dan lain-lain.  Bila jumlah populasi dibawah jumlah daya dukung lingkungan, maka jumlah reproduktif populasi organisme tersebut akan meningkat (Wright & Nebel 2002: 293).  Hal tersebut terjadi pada penangkaran rusa di Kampus UI Depok.  Populasi rusa terus mengalami peningkatan.  Namun, bila peningkatan populasi terus dibiarkan, maka setiap individu akan saling berkompetisi dan tidak lagi dapat diakomodasi oleh daya dukung lingkungan yang ada (Wright & Nebel 2002: 293).
    Solusi untuk mengatasi kekhawatiran tersebut dapat diawali oleh penelitian awal.  Penelitian tersebut dapat menghasilkan data kuantitatif mengenai seberapa banyak jumlah populasi rusa yang dapat ditampung kandang secara optimal.  Beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain komponen biotik dan abiotik.  Komponen abiotik kawasan melingkupi kondisi iklim, curah hujan, suhu, kelembaban, topografi, sumber air, jenis tanah dan elevasi, sedangkan komponen biotik melingkupi vegetasi dan daya dukung lingkungan (Sumanto 2007: 2).
    Jumlah populasi yang dapat ditampung menjadi sangat penting mengingat laju reproduksi rusa relatif cepat.  Rusa timor mulai berbiak pada umur 15 -- 18 bulan.  Lama umur kehamilan kurang lebih 9 bulan (Basunim ? : 12 -- 13), lama penyusuan selama 4 – 7 bulan, dan akan memasuki masa kelahiran berikutnya paling cepat 12 -- 15 bulan kemudian (Semiadi 1998: 24).  Dengan kata lain, sejak umur 15 -- 18 bulan, rusa dapat berbiak selama satu hingga satu setengah tahun sekali menghasilkan 1 atau 2 ekor anak.  Bila saat ini terdapat 10 pasang rusa produktif berumur 1,5 -- 2 tahun, maka pada tahun 2015 populasi rusa yang terdapat di penangkaran kampus UI mencapai ± 60 rusa (belum memertimbangkan laju kematian).
    Cepatnya laju reproduksi rusa didukung dengan sistem  farming (seluruh kebutuhan pakan dan air disediakan atau disuplai dari luar) (Sumanto 2007: 1) yang dilakukan di penangkaran rusa Kampus UI Depok.  Sistem tersebut memungkinkan jumlah pakan dapat mencukupi atau melebihi kebutuhan pakan rusa.  Pakan yang melimpah dan musim hujan akan meningkatkan kualitas dan kuantitas birahi pada betina (Samsudewa dkk 2006: 22) sehingga dapat meningkatkan laju reproduksi.
    Oleh karena itu, setelah dilakukan penelitian awal, perlu dibentuk suatu tim khusus yang bertugas memonitor laju pertumbuhan rusa.  Bila rusa yang berada di kandang sudah terlalu banyak dan tidak mampu lagi didukung oleh sumber daya yang ada, maka perlu dilakukan perampingan jumlah populasi.  Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merampingkan populasi antara lain rusa dapat disumbangkan ke penangkaran lain atau dapat pula dibunuh untuk dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan.  Rusa yang dibunuh dapat dimanfaatkan daging, kulit, dan tanduknya (Widateti 2009: 7).  Selain itu, dengan bobot badan berkisar 40 – 120 kg, daging rusa juga memiliki cita rasa dan kandungan gizi tinggi (Samsudewa dkk 2006: 19).  Daging tersebut dapat digunakan sebagai santapan saat ada kunjungan tamu penting di UI atau pun disumbangkan ke karyawan UI dan warga sekitar.  Namun, perampingan jumlah populasi dengan cara tersebut hanya dapat dilakukan bila jumlah populasi sudah terlalu banyak dan perlu dimonitor/dikontrol oleh tim khusus.
    Beberapa taman nasional di negara-negara lain (misalnya argentina) bahkan melakukan pekan olahraga berburu rusa untuk mengendalikan populasi rusa (Veblen dkk. 1992: 74).  Ledakan populasi rusa dapat menghambat regenerasi (laju pertumbuhan perkecambahan, tunas, dan anakan) tumbuhan hutan hujan (Veblen dkk. 1992: 82; Russel dkk. 2001: 18).  Hal tersebut disebabkan preferensi pakan rusa, yang berupa pucuk-pucuk daun, kecambah, dan buah.  Selain menghambat regenerasi tumbuhan, ledakan populasi rusa juga dapat menyebabkan efek negatif tidak langsung terhadap berkurangnya populasi burung hutan (Allombert dkk 2005: 11).
    Ide mengenai pelepasan rusa yang terdapat kandang penangkaran ke hutan UI sebaiknya tidak dipilih.  Bila rusa dilepaskan ke hutan UI dan dibiarkan tumbuh bebas, maka rusa tersebut akan menjadi hewan introduksi baru yang dapat hidup bebas tanpa predator.  Tidak adanya predator akan membuat populasi rusa tidak terkontrol (Cote 2004: 116) sehingga dapat menjadi salah satu penyebab kepunahan spesies (dalam hal ini merupakan banyak spesies tumbuhan di Hutan UI) (Raven, 2002: 633).  Efek tersebut bukan lah efek jangka pendek yang dapat langsung terasa, tapi jangka panjang (Cote 2004: 136).


    Referensi:
    Allombert, S., Gaston, A.J., Martin, J.L. 2005. A natural experiment on the impact of overabundant deer on songbird populations. Biological Conservation, 126: 1 -- 13.
    Basunim, S. ?. Manajemen perkembangbiakan dalam usaha penangkaran rusa ditinjau dari aspek perilakunya. Media Konsevasi, 1(4): 11  -- 16.
    Cote, S.D. dkk. 2004. Ecological impacts of deer overabundance. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics, 35: 113 -- 147.
    Raven & Johnson. 2002. Biology sixth edition. McGrawHill, New York: 1239 hlm.
    Russell, F.L., Zippin, D.B., & Fowler, N.L. 2001. Effects of white-tailed deer (Odocoileus virginianus) on plants, plant populations and communities: a review. American Midland Naturalist, 146(1): 1 -- 26.
    Samsudewa, D., & Susanti, S. 2006. Studi tingkah laku reproduksi rusa timor (Cervus timorensis) sebagai upaya penangkaran di Kepulauan Karimunjawa. Agromedia, 26(2): 19 -- 24.
    Semiadi, G. 1998. Pola kelahiran Rusa timorensis di Nus'a Tenggara Timur. Hayati, 5(1): 22 -- 24.
    Sumanto, Masyu’d, B., & Thohari, A.M. 2007. Disain penangkaran rusa timor (cervus timorensis de blainville berdasarkan sistem deer farming di  kampus ipb darmaga bogor. 7 hlm.
    Veblen, T.T., dkk. 1992. Ecological impacts of introduced animals in Nahuel Huapi National Park, Argentina. Conservation Biology 6(1): 71 -- 83.
    Wirdateti, dkk. 2009. Karakteristik morfometrik rusa sambar (Rusa unicolor) sebagai dasar kriteria seleksi sifat pertumbuhan. Jurnal Veteriner, 10(1): 7 -- 11.
    Wright, R.T. & Nebel, B. 2002. Environmental science: toward a sustainable future. Pearson Education, New Jersey: xxi + 681 hlm.
    Era perdagangan karbon (carbon trading) telah dimulai.  Sejak tahun 1960-an perdagangan karbon telah dicanangkan oleh ahli ekonomi Amerika.  Sekitar duapuluh tahun kemudian, berbagai percobaan mengenai mekanisme kebijakan perdagangan karbon terus dilakukan.  Hingga akhirnya Bill Clinton pada tahun 1997 berhasil menekan Protokol Kyoto untuk dijadikan landasan instrumentasi perdagangan karbon (Lohman 2009: 2).
    Setiap negara yang berpartisipasi dalam Protokol Kyoto sepakat unutk menurunkan emisi karbon dibawah level tertentu.  Indonesia misalnya, berkomitmen menurunkan emisi karbon hingga 26% hingga tahun 2020 (Luttrell dkk. 2011: 1).  Upaya yang ditawarkan untuk menurunkan emisi karbon antara lain Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+).  Pemikiran utama REDD+ adalah menciptakan suatu sistem pembayaran multitingkat (global-nasional-lokal) untuk jasa lingkungan yang dapat mengurangi emisi karbon dan meningkatkan cadangan karbon hutan (Angelsen dkk. 2011: 3).  Dengan kata lain, perdagangan karbon menjadi hal dasar yang akan diatur sedemikian mungkin agar dapat tercapai melalui berbagai mekanisme dalam REDD+.  Konsep perdagangan karbon antara lain negara dapat membeli kredit karbon dari negara lain yang tidak memiliki taget pengurangan emisi (misalnya negara berkembang) atau negara yang menghasilkan emisi karbon lebih rendah dari emisi maksimal yang dapat dikeluarkan (Laurance 2008: 286).
    Bagi Indonesia, pemahaman dan persiapan mengenai perdagangan karbon perlu segera dilakukan.  Hal tersebut disebabkan oleh, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia.  Hutan tersebut merupakan sumber modal unutk mendapatkan keuntungan melalui REDD+ atau perdagangan karbon.  Dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat dunia seperti bankir, ekonom, aktivis lingkungan, pemerintah negara-negara, dan lain-lain semakin berkonsentrasi pada isu perdagangan karbon.  Oleh karena itu, Indonesia selaku pemiliki hutan harus mampu menjadi tuan rumah yang baik dan tegas.
    Bagi Indonesia, REDD+ bukan hal yang sangat baru.  Konsep ini telah mulai di jalankan di beberapa daerah.  Salah satu contoh aplikasi REDD+ atau perdagangan karbon di Indonesia telah mulai dilakukan oleh Dharsono Hartono, seorang pelaku bisnis Indonesia.  Beliau, melalui perusahaannya PT RMU, berusaha melestarikan dan melakukan penanaman kembali lahan gambut dan rawa seluas tiga kali luas wilayah Singapura (Fogarty 2010: 2).  Proyek yang dilakukan di Kantingan, Kalimantan tersebut, diperkirakan dapat menghasilkan 100 juta kredit karbon selama 30 tahun.  Besar investasi yang telah masuk adalah 2 juta dolar dan akan meningkat 4,5 juta dolar bila lisensi khusus dari pemerintah telah dikeluarkan (Fogarty 2010: 4).  Program REDD+ memang sangat menjanjikan, bahkan PBB memerkirakan besar jumlah pasar karbon dapat mencapai 30 miliar dolar per tahun bila Indonesia telah siap menjalankan REDD+ secara keseluruhan dengan mekanisme yang jelas.
    Sayangnya, hingga saat ini belum ada mekanisme yang jelas mengenai REDD+ di tingkat global, antar negara, maupun nasional, dan lokal.  Hanya Eropa dan New Zealand yang telah memiliki skema atau mekanisme REDD+.  Namun, mekanisme yang dijalankan di kedua wilayah tersebut juga masih banyak kekurangan dan belum jelas.  Oleh karena itu, tidak ada salahnya Indonesia menjadi salah satu pemimpin dari proses persiapan era perdagangan karbon (atau REDD+) dunia.
    Pemerintah Indonesia pun telah diberi dukungan oleh semua pihak di dunia (baik dari akademisi, aktivis, bankir, negara, dll) untuk sesegera mungkin memersiapkan REDD+.  Misalnya saja dengan pemerintah Norwegia.  Pemerintah Norwegia telah bersepakat dengan Indonesia untuk menggelontorkan uang sejumlah 1 miliar dolar dalam 5 -- 6 tahun.  Dana tersebut digunakan unruk memerbaiki birokrasi Indonesia yang buruk, agar dapat menunjang tercapainya mekanisme REDD+ yang efektif dan efisien.  Dalam upaya persiapan era perdagangan karbon, pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk persiapan perdagangan karbon, antara lain melalui Keputusan Presiden No 25 tahun 2011.
    Keputusan Presiden No. 25 tahun 2011 mengatur tentang pembentukan Satgas Kelembagaan REDD+ yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Tugas Satgas Kelembagaan REDD+ adalah menyiapkan pembentukan kelembagaan REDD+, mengkoordinasikan penyusunan strategi nasional REDD+, menyiapkan instrumen dan mekanisme pendanan REDD+, menyiapkan pembentukan lembaga REDD+ yang independen dan terpercaya, melaksanakan kegiatan REDD+ di provinsi  percontohan pertaman, menyusun kriteria pemilihan provinsi percontohan kedua, dan melaksanakan pemantauan Inpres No 10 tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan alam Primer dan Lahan Gambut.
    Hingga saat ini, belum ada laporan kepada masyarakat mengenai hasil kerja Satgas Kelembagaan REDD+.  Namun, langkah pemerintah perlu kita apresiasi.  Masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk memiliki mekanisme REDD+ yang jelas, seperti sertifikasi lahan masyarakat adat, pembuatan pusat data yang akurat, pembentukan lembaga-lembaga yang kompeten, dan lain-lain.  Bila Indonesia berhasil melaksanakan REDD+ dengan memerhatikan kepentingan masyarakat, tentu akan banyak keuntungan yang didapat Indonesia

    Referensi:

    Laurance, W. 2008.Can carbon trading save vanishing forests?. BioScience 58(4): 286 -- 287 hlm.
    Lohmann, L. 2009. Neoliberalism and the calculable world: the rise of carbon trading.  Zed Books, London: 12 hlm.
    Luttrell, C., dkk. 2011. Lessons for REDD+ from measures to control illegal logging in Indonesia. United Nation Office on Drugs and Crime and Centre for International Forestry Research, Bogor: 12 hlm.
    Fogarty, D. 2010. Making forest pay in a warming world. Reuters Special Report, Desember: 9 hlm.
    Angelsen, A., dkk. 2011. Mewujudkan REDD+: strategi nasional dan berbagai pilihan kebijakan. Center for International Forestry Research, Bogor: xxiv + 366 hlm.

                Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah hewan endemik Sumatera.  Harimau Sumatera merupakan harimau terkecil dari seluruh jenis haimau yang hidup di dunia hingga pada saat ini.  Ukuran tubuh harimau sumatera jantan dapat mencapai 2,4 meter, sedangkan betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.  Bobot tumbuh haimau sumatera dapat mencapai 170 kg (Harapan Rain Forest, 2011).


    Harimau Sumatera diperkirakan kini hanya tinggal 400-500 individu dan tersebar di wilayah-wilayah Sumatera (IUCN, 2011).  Kawasan yang masih terdapat Harimau Sumatera antara lain di hutan rawa Taman Nasional Berbak, hutan bekas tebangan di Taman Nasional Way Kambas, dan hutan hujan tropis Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat.  Harimau dapat menjelajah hingga 15 km setiap harinya, oleh karena itu setiap individu membutuhkan minimal wilayah seluas 100 km2 untuk hidup dan mencari mangsa.  Dalam penjelajahan tersebut, harimau mencari makan (rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain) sekitar 3-6 hari sekali (WCS, ?).
                Sejak tahun 1996, Harimau Sumatera ditetapkan sebagai hewan Critically Endangered.  Hal tersebut disebabkan antara lain oleh kerusakan habitat, kekurangan pakan, dan perburuan liar (IUCN, 2011).  Kerusakan habitat Harimau Sumatera disebabkan oleh deforestasi, penebangan hutan ilegal, kebakaran hutan, dan kesalahan tata guna lahan (Supriatna, 2008).  Kerusakan habitat bukan hanya memengaruhi Harimau Sumatera, namun juga hewan-hewan lain yang hidup di habitat tersebut.  Bila hewan-hewan lain seperti rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain semakin sedikit jumlahnya maka akan semakin sedikit pula ketersediaan pakan untuk Harimau Sumatera (WCS, ?).
    Data IUCN pada tahun 1998 -- 2002 sedikitnya terdapat 56 harimau per tahun yang dibunuh untuk perdagangan (76%) dan akibat konflik dengan manusia (15%).  Warga sekitar cukup sering melakukan perburuan liar untuk mendapatkan makanan (yang merupakan pakan harimau).  Hal tersebut menyebabkan harimau kekurangan pakan di hutan dan mencari mangsa di daerah perbatasan (dimana terdapat peternakan warga).  Warga yang hewan ternak nya dimakan oleh harimau kemudian marah dan membunuh harimau tersebut.
    Beberapa alasan tersebut menyebabkan keberadaan Harimau Sumatera semakin sedikit dan mengkhawatirkan.  Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi yang berkelanjutan.  Langkah pertama untuk melakukan upaya konservasi adalah perlu dilakukan analisis prioritas kawasan yang dilindungi (Farid, 2008).  Hal tersebut perlu dilakukan agar upaya konservasi yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien.  Kawasan yang menjadi prioritas konservasi ditentukan dengan cara mengumpulkan data mengenai daerah tersebut sebanyak-banyak nya.
    Data yang diperlukan antara lain jumlah individu, persebaran populasi, kondisi habitat, dan ketersediaan pakan.  Ukuran populasi Harimau Sumatera dapat ditentukan dengan menggunakan metode langsung, metode perhitungan jejak, metode perkiraan, perhitungan dengan petak contoh dan metode tangkap dan tandai (camera trap).  Namun, metode yang paling sering digunakan adalah metode camera trap berdasarkan photographic capture harimau.  Harimau merupakan salah satu hewan melanistic, yaitu hewan yang dapat dibedakan secara individu berdasarkan pola loreng, ukuran badan, dan jenis kelamin.  Biasanya kamera diletakkan di lokasi satwa melakukan aktivitas, lokasi yang sering dikunjungi (misalnya sumber air, sumber pakan, dan sumber air garam) (Hutajulung, 2007).  Foto yang didapat dari metode tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan ukuran populasi harimau tersebut.
    Bila data telah terkumpul, prioritas dapat ditentukan berdasarkan jumlah daya dukung lingkungan (keberadaan mangsa dan kondisi habitat), jumlah betina yang fertil, dan banyak nya gangguan manusia.  Daerah yang telah diprioritaskan sebagai daerah konservasi kemudian dijaga dan dirawat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

    Daftar pustaka:

    Farid, M. 2008. . Majalah Tropika Indonesia, Juli – September 12(3).
    Harapan Rain Forest. 2011. Harimau Sumatera.  www.harapanrainforest.org/id/harimau-sumatera, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
    Hutajulung, M. B. 2007. Studi karakteristik ekologi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berdasarkan camera trap di lansekap Tesso Nilo-Bukit Tiga Puluh, Riau. Tesis Program Paska Sarjana Biologi FMIPA UI, Depok: xxi + 107 hlm.
    IUCN. 2011. Panthera tigris ssp. Sumatrae, 5 hlm. www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/15966/0, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
    Supriatna, J. 2008. Melestarikan alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xx+481.
    WCS. ?. Apa itu harimau?. Wildlife Conservation Society, Bogor.