Kata orang, kalau mau punya teman atau sahabat maka jadilah
seorang sahabat.
Tapi ternyata dikehidupan nyata, kondisinya tidak
sesederhana itu. Bisa jadi kita sudah menganggap seseorang adalah sahabat,
sedangkan dia hanya menganggap kita teman biasa. Bisa jadi kita sudah
menganggap dia teman kita, tapi ternyata dia hanya menganggap kita sebagai
kenalan. Bisa jadi kita sudah menganggap dia orang dekat tapi dia hanya
menganggap kita orang asing.
Satu hal yang baru saya sadari adalah ternyata batas
toleransi seseorang terhadap orang lain juga sangat tergantung pada label
‘kenalan’, ‘teman’, atau ‘sahabat’ yang dia buat sendiri. Bicara sesuatu yang
frontal, cuma bisa ditoleransi untuk orang yang sudah kita beri label ‘sahabat’.
Kalo orang yang masih berlabel ‘kenalan’ ngomong frontal, pasti akan dianggap
ngga sopan. Demikian juga, basa-basi itu bisa ditoleransi untuk ‘kenalan’, kalo
basa-basi sama ‘sahabat’ pasti jadinya aneh.
Masalahnya, kita ngga pernah bener-bener tau, orang yang
sedang kita ajak ngobrol itu sudah menganggap kita sebagai teman atau cuma
sebagai kenalan? Soalnya kalau dia masih menganggap saya seorang kenalan, saya
ngga boleh macem-macem bicara frontal. Iya ngga sih? Kalau sama sahabat mah
kita nyablak juga santai, orang dia udah tau kitanya gimana..
“Orang dia udah tau kita nya gimana.”
Kalimat itu artinya apa? Apakah artinya kita akan menjadi
orang yang berbeda ketika menjadi seorang kenalan dan ketika menjadi seorang
sahabat? Sehingga kalau hanya menjadi seorang kenalan, orang ngga perlu tau
‘kita nya gimana’? Supaya apa? Supaya orang lain happy terus dengan keberadaan kita?
Apakah saya harus selalu menjadi orang baik, pintar, nan
ramah untuk semua ‘kenalan’ ‘teman’ dan ‘sahabat’ saya, meskipun di dalam hati,
saya ngga segitunya. Yang penting citra saya sebagai orang baik, pintar, nan
ramah terus melekat pada siapapun orang yang memandang saya? Begitukah?
*
Terus saya harus bagaimana ketika saya sudah menganggap
seseorang adalah teman, lalu saya berbincang dengan nya tanpa mengenakan lagi
topeng-kenalan, tapi ternyata dia masih menganggap saya adalah ‘kenalan’
belaka. Sehingga perbincangan saya-tanpa-topeng-kenalan menjadi terlalu aneh
dan kasar bagi dia yang menganggap saya kenalan?
*
Peringatan kepada diri sendiri : berbaik sangka lah pada orang lain..
0 comments:
Post a Comment