“Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.”
Begitu yang tertulis di sampul belakang buku ini. Tulisan yang baru saya baca di dalam angkutan kota menuju rumah, dalam perjalanan pulang dari toko buku Gramedia Depok, Jawa Barat. Sesungguhnya saat itu saya tak ada rencana membeli buku, hanya mengantarkan rekan kerja saya, Mba Maya, yang ingin membeli sesuatu. Eh tetiba teringat buku yang direkomendasikan sahabat saya, Nindia, buku ini.
Pulang bercerita tentang Dimas, dan tiga kawannya – Nugroho, Tjai, dan Risjaf --
yang terjebak di Paris, tak bisa pulang ke Indonesia karena status mereka
sebagai eks tahanan politik (tapol). Mereka dihantui rasa bersalah karena
teman-teman mereka di Indonesia diburu, diculik, disiksa, dan dirampas hak nya
oleh pemerintah. Keluarganya pun diintrograsi terus menerus, tertekan secara
fisik dan mental, termasuk Surti, mantan kekasih Dimas sekaligus istri dari
Hananto. Pada akhirnya Lintang, anak dari perkawinan Dimas dengan Vivienne membuka
masa lalu ayahnya, serta menjadi saksi pada salah satu peristiwa penting di
negeri ini, kerusuhan Mei 1998.
Yang saya suka
dari novel ini adalah latar belakang peristiwa, lokasi, dan waktu diupayakan
sesuai dengan sejarah. Saya pikir, novel ini akan saya rekomendasikan untuk
dibaca oleh anak saya kelak saat ia belajar tentang Gerakan 10 September, Tragedi Trisakti, dan kerusuhan Mei 1998 di
sekolahnya. Karena membaca novel ini rasanya jauh lebih menyenangkan daripada
baca buku sekolah yang kaku dan taktis. Selain itu, novel ini juga mengisahkan drama
percintaan yang seru, walau agak-agak frontal dan mengumbar hidup bebas.
Bagi saya yang
lahir pada tahun 1990an, novel ini mampu membawa masuk ke dalam masa silam.
Membuat saya membayangkan seperti apa yang terjadi pada masa itu. Saya belum
lahir pada peristiwa di September 1965 dan Mei 1968, serta masih duduk di
sekolah dasar saat Peristiwa Mei 1998 terjadi. Sekitar bulan Mei 1998, sempat saya dan teman-teman
menyaksikan demonstrasi besar melalui lantai atas rumah guru les bahasa
inggris, yang berada tepat di seberang gedung DPR RI. Saat itu saya belum
mengerti apa yang sedang terjadi di negeri ini. Yang saya tau hanyalah banyak
sekali demonstran di pekarangan Gedung DPR RI, di jalan tol arah slipi itu, dan
duduk di atas gedung. Saya juga melihat asap yang banyak berkabutan di antara
para demonstran. Kata ibu, namanya gas air mata. Katanya, mata kita bisa sangat
perih bila terkena asap dari gas itu, tentara dan polisi menggunakannya untuk
menghalau demonstran.
| pendudukan Gedung DPR RI, Mei 1998 Sumber gambar : http://goo.gl/k5gt8e |
Setelah saya
pulang dari les bahasa inggris, saya melihat para demonstran yang lewat dan
masuk ke dalam komplek perumahan guru les bahasa inggris saya, di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Saya pun segera memacu sepeda lebih cepat, agar lekas sampai di rumah nenek.
Para demonstran yang saya lihat saat itu menyeramkan, mereka membawa
spanduk-spanduk, bendera bertuliskan entah apa, sering berteriak-teriak, dan mencorengkan
wajahnya dengan sesuatu berwarna putih. Belakangan saya tau itu odol yang
digunakan untuk mengurangi efek gas air mata.
Pada masa itu
pula saya sadar bahwa sedang terjadi peristiwa yang menyeramkan di negeri ini.
Sekolah saya ada di daerah Pejompongan sedangkan rumah saya di
Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Setiap hari, setelah saya selesai les, kami (ibu, bapak, saya,
kakak, dan adik saya) pulang ke rumah. Beberapa kali kami tidak bisa pulang
karena banyak sekali demonstran dan tentara di jalan. Di dekat DPR RI dan Jalan
Semanggi. Bahkan kabarnya ada baku tembak di daerah itu, ibu dan bapak sering sekali
menyaksikan berita tentang ini di televisi.
Novel Pulang
mengingatkan saya pada masa itu. Juga pada buku yang saya baca saat duduk di
bangku SMP, berjudul Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam. Buku yang
ditulis oleh anak-anak para jenderal yang menjadi korban Gerakan 30 September,
tentang ayah mereka yang diculik dan dibunuh di depan mata mereka oleh pasukan yang mengaku suruhan
panglima tertinggi. Juga teringat pada pementasan Papermoon Puppet Theater dalam karya
berjudul Mwatirika. Mirza membuat resensi yang bagus tentang pementasan itu.
Kisah-kisah pilu
tentang orang-orang yang menjadi korban suatu masa. Korban kekuasaan, korban
kekuatan yang terlalu memaksakan keinginan. Dan sekali lagi menyadarkan bahwa
pembungkaman orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran dan melawan penguasa
adalah hal yang umum di nusantara.
0 comments:
Post a Comment