Dua bulan terakhir saya kembali tinggal di Jakarta, setelah hampir dua tahun tinggal di Flagtstaff. Sebuah tempat yang selalu saya anggap sebagai rumah. Sejak dua tahun lalu, saya selalu merasa Flagstaff bukanlah rumah. Flagstaff hanya tempat singgah saja. Tempat saya belajar dan saya pasti akan pulang, ke Jakarta. Seperti lagu saja ya..
Ke Jakarta aku kan kembali..
Kata orang, konsep rumah akan berubah setelah kita pergi
merantau. Di tempat rantau, kita melihat dan merasakan kondisi yang berbeda
dari biasanya. Kultur baru, orang-orang baru, lokasi baru, semua baru.
Pelajaran dari hal-hal baru itulah yang membuat kita berubah, termasuk saya.
Buat saya, perubahan itu adalah keniscayaan. Diny yang sekarang, bukan Diny
seperti dua tahun lalu. Walau banyak juga sih hal-hal dasar yang masih sama. Di
sisi lain, rumah juga berubah. Selama saya tidak di rumah, banyak hal yang
terjadi, sehingga konsep rumah pun (mau tidak mau) tidak lagi sama.
Kembali pulang ke rumah, bukan hal yang ringan. Barangkali
apa yang saya alami juga banyak dialami oleh orang-orang yang habis merantau.
Dua tahun lalu, saya butuh 6 bulan untuk adaptasi belajar tentang perbedaan
kultur. Sekarang, tentunya harus belajar lagi untuk menghadapi reversed
culture shock.
Buat saya, dua bulan terakhir ini cukup berat. Saya harus
kembali beradaptasi dengan ritme kehidupan di Jakarta. Flagstaff adalah kota
kecil yang indah. Dekat dengan alam, tidak ada polusi udara, dan tidak ada
polusi cahaya yang bikin saya bisa lihat milky way hampir setiap hari,
jarak antara rumah dan kampus juga sangat dekat. Tempat yang sempurna untuk
belajar. Tempo kehidupan di Flagstaff relatif lambat. Berbeda sekali dengan di
Jakarta. Sekarang ini tempo hidup saya terasa cepat sekali dan melelahkan.
Bangun dini hari, siap-siap, berangkat ke kantor, penuh sesak di kereta,
bekerja hingga sore, penuh sesak di kereta (lagi), lalu sampai rumah sudah
tinggal tersisa lelahnya saja. Napas pun sulit akibat polusi yang begitu pekat.
Dulu sebelum kuliah, saya juga mengalami ini sih, tapi setelah Flagstaff, kok
terasa lebih berat ya hehehe. Namanya juga masa penyesuaian ya?
| Polusi Jakarta yang sangat pekat |
Kehidupan sebagai pelajar tentunya sangat berbeda dengan
kehidupan sebagai pekerja. Waktu sekolah, saya bisa santai belajar seharian
tentang topik apapun yang saya inginkan. Sekarang setelah bekerja, saya harus
belajar sesuai dengan kebutuhan kantor, walau akhirnya sih jadi belajar
keahlian baru juga ya. Apalagi pekerjaan baru saya ini berbeda dari pekerjaan
saya sebelum kuliah S2. Dulu saya bekerja di universitas, sekarang di LSM. Hal
yang dikerjakan juga berbeda. Saya sih senang-senang saja dengan perubahan ini.
Senang bisa belajar skill baru, yang pasti akan terpakai di masa depan.
Seru deh.
Perbedaan lainnya yang paling terasa adalah soal makanan
Indonesia. Tiga bulan terakhir di Flagstaff, saya sering merasa homesick.
Homesick-nya bukan karena kangen keluarga, karena kangen dengan
keluarga bisa diobati dengan telepon. Rasa kangen yang menjadi-jadi itu ya
karena kangen makanan Indonesia. Beberapa kali saya murung saking kangennya
makan makanan Indonesia. Apalagi di Flagstaff tidak ada restoran Indonesia,
yang paling mirip ya paling restoran Thailand. Begitu sampai di Jakarta dan
kembali makan makanan Indonesia, semua makanan yang saya makan jadi terasa
lebih enak dua kali lipat. Saya benar-benar rindu dengan masakan yang penuh cita
rasa rempah Indonesia.
Teman-teman saya yang dari Amerika kurang bisa relate
sama homesick karena makanan ini. Kebanyakan mereka sudah terbiasa dari
kecil makan masakan seadanya di rumah dan relatif bukan makanan khas. Saya baru
sadar kalau makanan itu bagian besar dari kultur saya sebagai orang Indonesia. Kalau
selama ini saya take it for granted, sekarang saya lebih menikmati dan
bersyukur bisa makan masakan Indonesia tanpa harus masak. Hehe
Banyak hal yang berubah di Jakarta. Sekarang sudah ada MRT,
transjakarta sudah punya banyak sekali rutenya, banyak jalan protokol ada
trotoar lebar, jembatan penyebrangan lebih mumpuni, dan sebagainya. Walau
Jakarta masih macet, masih penuh polusi udara. Saya juga baru sadar kalau Jakarta
itu bising sekali. Semua orang jalan cepat, banyak orang murung, orang-orang
mudah marah atau reaktif terhadap suatu hal. Ke mana pun saya pergi, hampir
semua orang selalu memegang dan menyibukkan diri dengan telepon selular mereka,
termasuk saya.
| Sore hari di Stasiun Sudirman. Orang-orang berwajah murung bersatu padu di dalam kereta api. |
Saya tidak tau akan seperti apa perjalanan hidup saya
beberapa waktu mendatang. Tapi saya yakin, akan banyak hal baru yang saya
pelajari di sini. Hingga mungkin suatu saat nanti, saya bisa merantau lagi lalu
belajar banyak hal baru lagi di tempat yang lain.
Selamat menikmati Jakarta.
xoxo,
Diny

0 comments:
Post a Comment